<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	xmlns:georss="http://www.georss.org/georss" xmlns:geo="http://www.w3.org/2003/01/geo/wgs84_pos#" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/"
	>

<channel>
	<title>Cipeh&#039;s Blog</title>
	<atom:link href="http://cipeh.wordpress.com/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://cipeh.wordpress.com</link>
	<description>Just another WordPress.com weblog</description>
	<lastBuildDate>Fri, 05 Mar 2010 14:30:35 +0000</lastBuildDate>
	<language>id</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.com/</generator>
<cloud domain='cipeh.wordpress.com' port='80' path='/?rsscloud=notify' registerProcedure='' protocol='http-post' />
<image>
		<url>http://0.gravatar.com/blavatar/c23401aea40f3dcf30f1859e084139cb?s=96&#038;d=http%3A%2F%2Fs2.wp.com%2Fi%2Fbuttonw-com.png</url>
		<title>Cipeh&#039;s Blog</title>
		<link>http://cipeh.wordpress.com</link>
	</image>
	<atom:link rel="search" type="application/opensearchdescription+xml" href="http://cipeh.wordpress.com/osd.xml" title="Cipeh&#039;s Blog" />
	<atom:link rel='hub' href='http://cipeh.wordpress.com/?pushpress=hub'/>
		<item>
		<title>BAGI KALIAN YANG  MENGANGGAP KAMI KHAWARIJ</title>
		<link>http://cipeh.wordpress.com/2010/03/05/bagi-kalian-yang-menganggap-kami-khawarij/</link>
		<comments>http://cipeh.wordpress.com/2010/03/05/bagi-kalian-yang-menganggap-kami-khawarij/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 05 Mar 2010 14:28:13 +0000</pubDate>
		<dc:creator>cipeh</dc:creator>
				<category><![CDATA[Al Islam]]></category>
		<category><![CDATA[Khawarij]]></category>
		<category><![CDATA[mujahidin]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://cipeh.wordpress.com/?p=294</guid>
		<description><![CDATA[Ini adalah pesan untuk semua yang menuduh para Mujahidin dan Ulama Mujahidin hari ini dengan label Khawarij, seperti terhadap Syaikh Yusuf bin Saalih al-’Uyayree, Syaikh Abu Yahya al-Libbi, Syaikh Usamah bin Ladin, Syaikh Ayman Zhawahiri, dan lainnya&#8230; Jika kalian men&#8230;ganggap kami khawarij, maka berikan jawaban pada kami dari pertanyaan-pertanyaan berikut. 1. Salah satu ciri Khawarij [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=cipeh.wordpress.com&amp;blog=11766244&amp;post=294&amp;subd=cipeh&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div>Ini adalah pesan untuk semua yang menuduh para Mujahidin dan Ulama Mujahidin hari ini dengan label Khawarij, seperti terhadap Syaikh Yusuf bin Saalih al-’Uyayree, Syaikh Abu Yahya al-Libbi, Syaikh Usamah bin Ladin, Syaikh Ayman Zhawahiri, dan lainnya&#8230; Jika kalian men&#8230;ganggap kami khawarij, maka berikan jawaban pada kami dari pertanyaan-pertanyaan berikut.</div>
<div>1. Salah satu ciri Khawarij adalah mereka dekat dan akrab dengan Kuffar. Coba ungkapkan kepada kami dengan jujur, kapan terakhir kali kalian lihat para Mujahidin menunjukkan keakraban dengan Kuffar? Kapan terakhir kali kalian lihat Mujahidin memberikan senyuman kepada Kuffar dan membuang muka dari orang Muslim? Kapan terakhir kali kalian melihat Mujahidin berpegangan tangan dengan Bush dan Condoleezza Rice? Kapan terakhir kali kalian lihat Mujahidin mencium pipi si Zionis Olmert dan melakukan kerjasama dengan si Tirani Kafir Putin? Kapan terakhir kali kalian melihat Mujahidin berpegangan tangan dengan sang pengkhianat Syi’ah yang menindas Sunnah di Iran, Ahmadinejad? Kapan kalian melihat Mujahidin memutuskan kebijakan bersama Dick Cheney di rumah kriminal (Gedung Putih)? Dan kapan kalian lihat Mujahidin berjalan di karpet merah bersama pangeran Charles dan tersenyum dengan Ratu Elizabeth? Kenapa semua pertanyaan-pertanyan ini mengingatkan kita kepada King Abdullah, raja Saudi dan orang-orang yang sepertinya?</div>
<div>2. Ciri Khawarij lainnya adalah bahwa mereka melakukan Takfir kepada orang Islam yang melakukan dosa yang tidak mengeluarkan dari Islam. Sebagian dari kalian menganggap Mujahidin adalah Kafir dan Khawarij karena memberontak terhadap pemerintah hari ini yang tidak berhukum dengan Syari’ah. Jelaskan pada kami, jika kalian mengklaim berilmu, jika para Salaf telah mengklasifikasikan dosa pemberontakan (bughaat) terhadap Khalifah sebagai dosa yang tidak mengeluarkan seseorang dari Islam, jadi kenapa kalian menganggap itu (berontak terhadap pemerintah yang bukan Khalifah, -red) sebagai dosa yang menghapus Syahadat? Kenapa kalian menyamakan kami dengan Khawarij??</div>
<div>3. Ciri Khawarij lainnya adalah mereka menampakkan kekerasan terhadap Muslim. Kalau lah Mujahidin benar-benar memiliki ciri ini, kenapa kami melihat Pemerintah Saudi memberikan Tentara Salib basis militer untuk menyerang Irak dan Afghanistan, untuk membunuh ribuan kaum Muslimin –baik pejuang dan non-pejuang– dan kami tidak melihat kalian menganggap mereka Khawarij? Di manakah keadilan? Dan bagaimana kalian dapatkan berita bahwa Mujahidin membunuh kaum Muslimin? Apakah berita-berita itu yang membuat kalian memberikan sebutan Khawarij pada mereka? Kami yakin kalian pasti mendapatkan berita tersebut dari media Fasiq dan Kafir, yang sampai saat ini mereka tidak bisa membuktikan bahwa Mujahidin yang melakukan peledakan di pasar-pasar di Irak. Karena Mujahidin tidak memiliki satupun ciri-ciri ini (Khawarij), jadi apakah pantas kalian menyebut mereka sebagai anjing-anjing neraka, padahal mereka berjuang membela Dien kalian, kehormatan kalian, dan tanah kalian?! Dan kita semua pasti tau, semua orang dapat berbuat salah dan cenderung melakukan kesalahan, dan Mujahidin tidak terlepas dari hal itu. Jadi, kenapa ketika mereka melakukan kesalahan lalu kemudian mereka meminta maaf secara terbuka (karena ketidakmampuan mereka, atau kesalahpahaman, atau salah kendali, atau karena tergelincir) – seperti pengeboman di hotel di Jordan yang menewaskan Zionis, namun karena ledakannya sangat besar di luar dugaan, ia juga mengenai acara pernikahan – kenapa kalian tetap menganggap mereka Khawarij karena aksi ini yang mereka telah bertaubat dan mereka sesali?! Atau kalian dengan sengaja mengabaikan pernyataan mereka dan kata-kata mereka kepada ummat?&#8230; &#8211; Abu Ja’far -</div>
<p><a>Lihat Selengkapnya</a></p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/cipeh.wordpress.com/294/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/cipeh.wordpress.com/294/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/cipeh.wordpress.com/294/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/cipeh.wordpress.com/294/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/cipeh.wordpress.com/294/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/cipeh.wordpress.com/294/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/cipeh.wordpress.com/294/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/cipeh.wordpress.com/294/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/cipeh.wordpress.com/294/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/cipeh.wordpress.com/294/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/cipeh.wordpress.com/294/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/cipeh.wordpress.com/294/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/cipeh.wordpress.com/294/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/cipeh.wordpress.com/294/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=cipeh.wordpress.com&amp;blog=11766244&amp;post=294&amp;subd=cipeh&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://cipeh.wordpress.com/2010/03/05/bagi-kalian-yang-menganggap-kami-khawarij/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/264b6e5aa49527d70114602e92b7a1e2?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">cipeh</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>SUDAHKAH ANDA KAFIR KEPADA THAGHUT</title>
		<link>http://cipeh.wordpress.com/2010/03/01/sudahkah-anda-kafir-kepada-thaghut/</link>
		<comments>http://cipeh.wordpress.com/2010/03/01/sudahkah-anda-kafir-kepada-thaghut/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 01 Mar 2010 16:47:11 +0000</pubDate>
		<dc:creator>cipeh</dc:creator>
				<category><![CDATA[Al Islam]]></category>
		<category><![CDATA[islam]]></category>
		<category><![CDATA[kafir]]></category>
		<category><![CDATA[muslim]]></category>
		<category><![CDATA[syari'at islam]]></category>
		<category><![CDATA[THOGUT]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://cipeh.wordpress.com/?p=252</guid>
		<description><![CDATA[SUDAHKAH ANDA KAFIR KEPADA THAGHUT Segala puji hanya bagi Allah Rabbul ‘Alamin, shalawat dan salam semoga dilimpahkan kepada Rasulullah, para sahabat dan para pengikutnya sampai akhir kiamat. Amma ba’du: Suatu hal yang mengenaskan adalah realita di mana banyak orang-orang yang mengaku Islam dan mereka mengaku pengikut Muhammad shallallahu’alaihi wa salam, namun mereka tidak mengetahui apa [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=cipeh.wordpress.com&amp;blog=11766244&amp;post=252&amp;subd=cipeh&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>SUDAHKAH ANDA KAFIR KEPADA THAGHUT<br />
Segala puji hanya bagi Allah Rabbul ‘Alamin, shalawat dan salam semoga dilimpahkan kepada Rasulullah, para sahabat dan para pengikutnya sampai akhir kiamat.</p>
<p><a href="http://cipeh.files.wordpress.com/2010/03/panji-islam.jpg"><img class="aligncenter size-medium wp-image-253" title="panji-islam" src="http://cipeh.files.wordpress.com/2010/03/panji-islam.jpg?w=300&#038;h=206" alt="" width="300" height="206" /></a><br />
Amma ba’du:<br />
Suatu hal yang mengenaskan adalah realita di mana banyak orang-orang yang mengaku Islam dan mereka mengaku pengikut Muhammad shallallahu’alaihi wa salam, namun mereka tidak mengetahui apa hakikat Al Islam itu dan tidak mengetahui inti dakwah Rasulullah itu? Hal ini diperparah dengan realita bahwa mereka itu tidak mengetahui apa itu syirik dan apa jalan-jalan kaum musyrikin yang mereka jauhi?<span id="more-252"></span></p>
<p>Sehingga tidak heran bila di antara umat yang mengaku muslim itu banyak di antara mereka malah menjadi musuh-musuh bagi ajaran Islam ini, dan mereka loyal kepada musuh-musuh Allah Ta’ala, mereka menjunjung tinggi syirik dan ajaran syaitan serta mereka berbondong-bondong dan bersaing untuk menjadi aparat thaghut dan syaitan manusia.</p>
<p>Engkau akan banyak melihat orang-orang yang di waktu shalat mereka melaksanakan shalat, di musim shaum mereka shaum, bahkan di musim haji mereka menunaikan haji, namun di waktu yang bersamaan mereka menjadi abdi hukum iblis dan penegak ajaran syaitan serta loyalitas kepada undang-undang thaghut. Oleh sebab itu tidak heran bila Abul Wafa Ibnu Uqail rahimahullah berkata: “Bila engkau ingin mengetahui posisi Islam di tengah manusia zaman ini dan gemuruh mereka dengan ucapan “labbaik” (saat ibadah haji) akan tetapi perhatikanlah keselarasan mereka dengan musuh-musuh ajaran (Islam) ini!” (Aqidatul Muwahhidin)</p>
<p>Ketahuilah wahai orang yang mencari selamat, sesungguhnya inti pokok dakwah Rasulullah dan bahkan rasul seluruhnya adalah ibadah kepada Allah dan menjauhi semua thaghut, yang mana ini adalah kandungan makna Laa Ilaaha Illallaah dan kedua rukunnya, sebagaimana firman-Nya Ta’ala:</p>
<p>“Sesungguhnya Kami telah mengutus seorang rasul bagi setiap umat (untuk menyerukan): “Beribadahlah kalian kepada Allah dan jauhilah thaghut”. (QS. An Nahl: 36)</p>
<p>Dia Ta’ala berfirman:</p>
<p>“Dan Kami tidak mengutus sebelum kamu seorang rasal-pun melainkan Kami wahyukan kepadanya bahwa tidak ada Ilah (yang berhak diibadati) kecuali Aku”. (Al Anbiyaa’: 25)</p>
<p>Surat An Anbiyaa’ ayat 25 ini menjelaskan bahwa semua Rasul itu telah Allah wahyukan kepada mereka Laa Ilaaha Illallaah, sedangkan surat An Nahl ayat 36 menjelaskan bahwa semua Rasul mengajak umatnya untuk beribadahlah kepada Allah Ta’ala dan menjauhi thaghut. Ini artinya bahwa kandungan kalimat Laa Ilaaha Illaallah adalah perintah ibadah hanya kepada Allah Ta’ala dan menjauhi thaghut. Laa Ilaaha Illaallah (tidak ada Tuhan yang haq) artinya jauhilah, dan Illallaah (kecuali Allah) artinya beribadahlah kepada Allah Ta’ala.</p>
<p>Orang yang beribadah kepada Allah Ta’ala akan tetapi dia tidak menjauhi thaghut maka dia belum mengamalkan kandungan makna Laa Ilaaha Illalaah, karena keduanya adalah rukun kalimat tauhid itu, yang bila salah satunya tidak terpenuhi maka syahadat Laa Ilaaha Illallaah yang dia ucapkan adalah tidak sah, dan bila syahadatnya tidak sah maka keislamannya tidak sah, sebagaimana firman Allah Ta’ala:</p>
<p>“Barangsiapa yang ingkar kepada Thaghut. Dan beriman kepada Allah, Maka Sesungguhnya ia Telah berpegang kepada buhul tali yang amat kuat yang tidak akan putus. Dan Allah Maha mendengar lagi Maha Mengetahui.” (QS. Al Baqarah: 256)</p>
<p>Al “Urwah al Watsqa adalah Laa Ilaaha Illallaah, di dalam ayat ini Allah Ta’ala menjelaskan bahwa orang tidak dikatakan telah memegang Laa Ilaaha Illallaah kecuali bila memenuhi dua hal yaitu: Kafir kepada Thaghut dan Iman kepada Allah.</p>
<p>Di dalam ayat tersebut Allah Ta’ala mendahulukan kafir kepada thaghut terhadap iman kepada Allah Ta’ala, ini supaya menutup pengakuan orang yang mengatakan bahwa dirinya telah mengamalkan kalimat tauhid akan tetapi dia belum kafir kepada thaghut.</p>
<p>Rasulullah Shallallaahu ‘alahi wa sallam bersabda: “Barangsiapa mengucapkan Laa Ilaaha Illaallah dan dia kafir kepada segala yang diibadati selain Allah maka terjagalah harta dan darahnya”. (Hadits Riwayat Muslim dari Abu Malik Al Asy Ja’iy radliyallahu ’anhu)</p>
<p>Hadits ini mengaitkan keislaman atau keterjagaan darah dan harta seseorang terhadap pengucapan Laa Ilaaha Illallaah dan sikap kafir kepada thaghut yang diungkapkan dengan sabdanya “dan dia kafir kepada segala yang diibadati selain Allah”. Walaupun sikap kafir kepada thaghut itu sudah dikandung di dalam kalimat Laa Ilaaha Illallaah namun Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wa sallam menguatkannya dengan sabdanya “dan dia kafir kepada segala yang diibadati selain Allah” untuk mengukuhkan begitu pentingnya sikap kafir kepada thaghut itu.</p>
<p>Oleh sebab itu para ulama kaum muslimin telah ijma (sepakat) bahwa pengucapan Laa Ilaaha Illallaah tidak bermanfaat bila tidak disertai sikap kafir kepada thaghut. Syaikh Sulaiman Ibnu Abdillah Ibnu Muhammad Ibnu Abdil Wahhab berkata sebagaimana yang dinukil oleh Syaikh Ali Al Khudlair:</p>
<p>“Sekedar mengucapkan kalimat syahadat tanpa mengetahui maknanya dan tanpa mengamalkan konsekuensinya (yaitu berupa komitmen dengan tauhid dan meninggalkan syirik akbar serta kafir kepada thaghut, maka sesungguhnya (pengucapan) itu tidak bermanfaat berdasarkan ijma.” (Al Haqaaiq: <img src='http://s0.wp.com/wp-includes/images/smilies/icon_cool.gif' alt='8)' class='wp-smiley' /> </p>
<p>Sedangkan di antara thaghut yang harus dijauhi dan kafir kepadanya adalah hukum atau Undang-undang buatan dan para tuhan jadi-jadian yang membuat hukum tersebut, sebagaimana firman Allah Ta’ala:</p>
<p>“Apakah kamu tidak memperhatikan orang-orang yang mengaku dirinya Telah beriman kepada apa yang diturunkan kepadamu dan kepada apa yang diturunkan sebelum kamu? Mereka hendak berhakim kepada thaghut, padahal mereka Telah diperintah mengingkari thaghut itu. dan syaitan bermaksud menyesatkan mereka (dengan) penyesatan yang sejauh-jauhnya.” (QS. An Nisaa’: 60)</p>
<p>Di dalam ayat ini Allah Ta’ala meniadakan iman dari orang-orang yang ingin berhukum kepada thaghut yaitu selain hukum Allah Ta’ala, dan Allah Ta’ala nyatakan bahwa iman mereka itu bohong dan klaim belaka. Jadi selain hukum Allah Ta’ala adalah thaghut, dan juga falsafah atau ideologi atau sistem selain apa yang Allah Ta’ala turunkan adalah ajaran thaghut yang Allah Ta’ala perintahkan kita untuk kafir kepadanya.</p>
<p>Adapun bentuk kafir kepadanya adalah tidak mengibadatinya, tidak mengikutinya, tidak mentaatinya, tidak menyetujuinya, tidak loyalitas kepadanya, tidak mencintainya, tidak membelanya, tidak merujuk kepadanya dan tidak memutuskan dengannya. Sedangkan sikap-sikap kebalikannya adalah sebagai sikap iman kepada thaghut dan pembatalan Laa Ilaaha Illallaah dan keislaman.</p>
<p>Adapun peribadatan kepada thaghut hukum adalah dengan bentuk penerimaan selain Allah Ta’ala sebagai pembuat hukum atau penyadaran kewenangan pembuatan hukum kepada selain Allah Ta’ala itu atau penerimaan komitmen dengan produk hukumnya itu. Ini berdasarkan firma Allah Ta’ala:</p>
<p>“Mereka menjadikan orang-orang alimnya dan rahib-rahib mereka sebagai Tuhan selain Allah dan (juga mereka mempertuhankan) Al masih putera Maryam, padahal mereka Hanya disuruh menyembah Tuhan yang Esa, tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) selain Dia. Maha Suci Allah dari apa yang mereka persekutukan.” (At Taubah: 31)</p>
<p>Dalam ayat ini Allah Ta’ala menetapkan beberapa vonis bagi kaum Nasrani, di antaranya:</p>
<p>- Mereka mempertuhankan alim ulama dan para rahib mereka.</p>
<p>- Mereka beribadah kepada alim ulama dan para rahib itu.</p>
<p>- Mereka melanggar Laa Ilaaha Illallaah.</p>
<p>- Mereka musyrik.</p>
<p>- Alim ulama dan para rahib itu memposisikan dirinya sebagai arbab (tuhan-tuhan pengatur).</p>
<p>Perlu diketahui bahw vonis-vonis itu mereka dapatkan bukan karena mereka shalat, sujud dan memohon kepada rahib dan alim ulama tersebut, akan tetapi karena mereka menyandarkan kewenangan pembuatan hukum kepada para rahib dan alim ulama itu dan kemudian mereka mengikutinya. Sebagimana tafsir ayat yang ada di dalam hadits Nabi Shallallaahu ‘alaihi wa sallam yang dihasankan sanadnya oleh Ibnu Taimiyyah dari ‘Adiy Ibnu Hatim, saat ia datang kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam sedang ia masih Nasrani, di mendengar Nabi Shallallaahu ‘alaihi wa sallam membaca ayat tersebut, maka dia berkata: “Kami tidak mengibadati mereka (alim ulama dan pendeta)”, maka Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wa sallam berkata: “Bukankah mereka itu menghalalkan apa yang telah Allah haramkan terus kalian (ikut) menghalalkannya pula, dan bukankah mereka mengharamkan apa yang telah Allah halalkan dan terus kalian (ikut) mengharamkannya? Adiy berkata: “Ya benar,” maka Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wa sallam berkata: “Itulah peribadatan kepada mereka itu”.</p>
<p>Jadi peribadatan di dalam ayat tersebut adalah penyadaran kewenangan perbuatan hukum kepada alim ulama dan para pendeta, ini dikarenakan bahwa kewenangan perbuatan hukum hanyalah ada di tangan Allah Ta’ala, sebagaimana firman-Nya Ta’ala:</p>
<p>“Menetapkan hukum itu hanyalah hak Allah”. (QS.Al An’am: 57).</p>
<p>“Ingatlah menciptakan dan memerintah hanyalah hak Allah.” (QS. Al A’raf: 54)</p>
<p>“Dan Dialah Allah, tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) melainkan Dia, bagi-Nyalah segala puji di dunia dan di akhirat, dan bagi-Nyalah segala penentuan hukum dan hanya kepada-Nyalah kamu dikembalikan.” (QS. Al Qashash: 70)</p>
<p>Jadi penyandaran kewenangan pembuatan hukum itu adalah murni hak Allah dan merupakan ibadah yang hanya boleh disandarkan kepada Allah Ta’ala saja, sebagaimana firman-Nya Ta’ala:</p>
<p>“Menetapkan hukum itu hanyalah hak Allah. Dia memerintahkan agar kamu tidak beribadah kecuali kepada Dia.” (QS. Yusuf: 40)</p>
<p>Bila hak pembuatan hukum ini disandarkan kepada selain Allah, maka itu adalah salah satu bentuk penyekutuan Allah, sebagaimana firman-Nya Ta’ala:</p>
<p>“dan Dia tidak mengambil seorangpun menjadi sekutu-Nya dalam putusan-Nya.” (QS. Al Kahfi: 26)</p>
<p>Dan di dalam qira’ah Ibnu ‘Amir mutawatir dibaca:</p>
<p>“dan janganlah kamu menyekutukan seorangpun di dalam hukum-Nya”</p>
<p>Oleh sebab itu Allah telah menamakan para pembuat hukum selain-Nya sebagai sekutu-sekutu yang diibadati di dalam firman-Nya Ta’ala:</p>
<p>“Apakah mereka mempunyai sembahan-sembahan selain Allah yang mensyariatkan untuk mereka agama yang tidak diizinkan Allah?” (QS.As Syuura: 21)</p>
<p>Sedangkan di dalam dien (ajaran) demokrasi, dien Undang-Undang Dasar 1945, dien Pancasila, dan dien-dien lainnya, yang berhak membuat hukum dan Undnag-undang itu bukanlah Allah Ta’ala, akan tetapi rakyat yang diwakilkan kepada wakil-wakil mereka di Parlemen yang merupakan tempat peribadatan kaum musyrikin. Apakah para anggota legeslatif yang menerima kewenangan pembuatan hukum atau orang yang menyetujui bahwa kewenangan pembuatan hukum itu berada di tangan para anggota legeslatif atau orang-orang yang mendukung demokrasi padahal dia mengetahui hakikat maknanya, apakah mereka itu sudah kafir kepada thaghut?</p>
<p>Bila saja kewenangan pembuatan hukum disandarkan kepada ulama dan para pendeta ahli ibadah itu merupakan pengangkatan mereka sebagai arbab (tuhan-tuhan) selain Allah, dan orang-orang menyetujui hukum buatan tersebut adalah divonis musyrik, bagaimana halnya dengan keadaan bila yang diberi kewenangan pembuatan hukum itu adalah orang-orang yang lebih busuk daripada alim ulama dan pendeta itu?</p>
<p>Syaikh Muhammad Al Amin Asy Syinqithiy berkata:</p>
<p>“Bahwa setiap orang yang mengikuti aturan, Undang-undang dan hukum yang menyelisihi apa yang disyari’atkan Allah lewat lisan Rasul-Nya Shallallaahu ‘alaihi wa sallam, maka dia itu musyrik kepada Allah, kafir lagi telah menjadikan apa yang diikutinya itu sebagai rabb (tuhan)”. (Al Hakimiyyah Fi Tafsir Ablwail Bayan)</p>
<p>Bersegeralah kalian wahai para anggota dewan, para pengurus semua partai yang berkecimpung di dalam demokrasi serta semua pendukung agama syirik demokrasi bersegeralah kalian berlepas diri darinya sebelum datang hari penentuan yang mana semua alasan yang kalian utarakan dan semua syubhat dan dalih yang dilontarkan ulama sesat kalian dalam rangka melegalkan atau menganggap ringan apa yang kalian lakukan semua itu tidak berguna lagi di hadapan Allah Ta’ala.</p>
<p>Bila sekarang kalian tidak percaya kepada apa yang saja katakan tapi, “Kelak kalian akan ingat kepada apa yang saya katakan kepada kalian.” (QS. Al Mu’min: 44)</p>
<p>Di antara bentuk peribatadan kepada hukum itu adalah sikap mematuhi dia dan mentaati atau menyetujui hukum buatan tersebut, sebagaimana firman Allah Ta’ala:</p>
<p>“Dan janganlah kamu memakan binatang-binatang yang tidak disebut nama Allah ketika menyembelihnya. Sesungguhnya perbuatan yang semacam itu adalah suatu kefasikan. Sesungguhnya syaitan itu membisikkan kepada kawan-kawannya agar mereka membantah kamu; dan jika kamu menuruti mereka, Sesungguhnya kamu tentulah menjadi orang-orang yang musyrik.” (Al An’am: 121)</p>
<p>Ayat ini menjelaskan prihal keharaman bangkai, dan bangkai ini dalam ajaran musyrik dahulu mereka namakan sebagai sembelihan Allah dan mereka menghalalkannya. Mereka melontarkan syubhat kepada kaum muslimin agar ikut menyetujui kehalalan bangkai itu, maka Allah menghati-hatikan kaum muslimin dari menuruti mereka dan Dia akan mencap mereka sebagai orang musyrik bila menuruti prihal penghalalan bangkai. Al Hakim meriwayat dari Ibnu ‘Abbas dengan sanad yang shahih bahwa kaum musyrikin mendebat kaum muslimin prihal hukum bangkai, mereka mengatakan: “Apa yang kalian sembelih halal sedang apa yang Allah sembelih kalian katakan haram, berarti sembelihan kalian adalah lebih baik daripada sembelihan Allah”, maka Allah turunkan “Dan jika kamu menuruti mereka sesungguhnya kamu tentulah menjadi orang-orang musyrik.”</p>
<p>Bila saja orang yang menyetujui satu hukum apa yang menyelisihi hukum Allah adalah divonis musyrik, maka apa gerangan dengan orang yang menyetujui atau mematuhi banyak hukum? Dan apa gerangan dengan orang yang menyetujui penyandaran kewenangan pembuatan hukum kepada wakil rakyat sebagaimana di dalam agama demokrasi dan Undang-Undang Dasar?</p>
<p>Allah Ta’ala menvonis murtad orang yang asalnya dihukumi muslim, karena sebab dia menyatakan akan setia atau akan mematuhi atau akan mentaati dalam satu urusan kekafiran orang-orang kafir atau hukum kafir mereka, Dia Ta’ala berfirman:</p>
<p>“Sesungguhnya orang-orang yang murtad ke belakang (kepada kekafiran) sesudah petunjuk itu jelas bagi mereka, syaitan telah menjadikan mereka mudah (berbuat dosa) dan memanjangkan angan-angan mereka. Yang demikian itu karena sesungguhnya mereka (orang-orang munafik) itu berkata kepada orang-orang yang benci kepada apa yang diturunkan Allah (orang-orang Yahudi): “Kami akan mematuhi kamu dalam beberapa urusan”, sedang Allah mengetahui rahasia mereka. Bagaimanakah (keadaan mereka) apabila malaikat mencabut nyawa mereka seraya memukul-mukul muka mereka dan punggung mereka? Yang demikian itu adalah karena sesungguhnya mereka mengikuti apa yang menimbulkan kemurkaan Allah dan karena mereka membenci keridhaan-Nya, sebab itu Allah menghapus (pahala) amal-amal mereka.” (QS. Muhammad: 25-28)</p>
<p>Bila ini adalah vonis bagi orang yang mengatakan AKAN mematuhi sebagian hukum atau Undang-undang buatan (thaghut) maka bagaimana dengan orang yang mengatakan: Setia kepada Negara Kesatuan Republik Indonesia yang berdasarkan Pancasila dan Undang-Undang Dasar 1945” sebagaimana dalam sumpah prajurit TNI?</p>
<p>Dan bagaimana dengan orang yang mengatakan:</p>
<p>“Demi Allah, saya bersumpah</p>
<p>Bahwa saya untuk diangkat menjadi Pegawai Negeri Sipil AKAN setia dan taat SEPENUHNYA kepada Pancasila, Undang-Undang Dasar 1945, Negara dan Pemerintah. Bahwa saya AKAN mentaati segala peraturan perundang-undangan yang berlaku……….”</p>
<p>Sebagaimana di dalam sumpah PNS berdasarkan Perpu No. 21 Tahun 1975 Pasal 6. Dan bahasa singkat sumpah ini adalah “Demi Allah, saya bersumpah akan iman sepenuhnya kepada thaghut dan kafir kepada Allah”!!! Maka cepatlah kamu sadar wahai abdi thaghut dari kekafiran sebelum datang ajal menjemputmu!</p>
<p>Di antara bentuk kafir kepada thaghut hukum adalah tidak loyalitas kepadanya, yaitu tidak menjadikan para pemerintah thaghut itu sebagai pemimpin dan pelindung. Oleh sebab itu orang yang menjadikan pemerintah thaghut sebagai pemimpin atau imam atau amir atau ulil amri bagi dia dan bagi kaum muslimin padahal dia mengetahui bahwa pemerintah thaghut ini berhukum dengan hukum buatan atau berpaham demokrasi atau berideologi bukan Islam (umpamanya Pancasila) atau kekafiran nyata lainnya, maka orang itu telah menjadikan thaghut itu sebagai pelindung dan pemimpinnya, sedangkan orang yang menjadikan thaghut sebagai pelindung adalah orang-orang kafir yang tidak kafir kepada thaghut dan tidak beriman kepada Allah walaupun dia mengaku beriman kepada Allah, sebagaimana firmannya Ta’ala:</p>
<p>“Allah pelindung orang-orang yang beriman; dia mengeluarkan mereka dari kegelapan (kekafiran) kepada cahaya (iman). dan orang-orang yang kafir, pelindung-pelindungnya ialah syaitan, yang mengeluarkan mereka daripada cahaya kepada kegelapan (kekafiran). mereka itu adalah penghuni neraka; mereka kekal di dalamnya.” (QS. Al Baqarah: 257)</p>
<p>Oleh sebab itu tidak boleh orang muslim ikut memilih orang yang akan menegakkan selain hukum Allah, dan barangsiapa ikut memilih Presiden atau yang lainnya sedangkan dia mengetahui bahwa yang dipilihnya itu akan menegakkan selain hukum Allah maka dia itu adalah orang kafir. Dan perlu diingat bahwa pemerintah atau penguasa yang berhukum dengan hukum thaghut adalah bukan pemimpin atau ulil amri bagi kaum muslimin, karena kepemimpinan mereka itu tidak sah.</p>
<p>Di antara bentuk kafir kepada thaghut hukum adalah tidak membelanya dan tidak berjuang di jalannya, karena yag membela atau berjuang di jalan thaghut hanyalah orang-orang kafir, Allah Ta’ala berfirman:</p>
<p>“Orang-orang yang beriman berperang di jalan Allah, dan orang-orang yang kafir berperang di jalan thaghut, sebab itu perangilah kawan-kawan syaitan itu, Karena Sesungguhnya tipu daya syaitan itu adalah lemah.” (QS. An Nisaa’: 76)</p>
<p>Di dalam ayat ini Allah Ta’ala mencap orang yang berperang atau yang berkiprah dalam rangka membela, melindungi, menjaga dan mengokohkan sistem dan hukum atau ajaran thaghut sebagai orang kafir dan wali syaitan, sedangkan kamu hai Polisi, Tentara dan Badan Intelejen, apa dinas kalian dibentuk untuk mengokohkan hukum Allah Ta’ala atau hukum buatan (hukum thaghut)? Apakah kalian ini kesatuan Pembela Negara yang berhukum dengan hukum Allah atau justru Negara yang berhukum dengan hukum thaghut? Jawabannya ada nampak pada berhala UUD kalian sendiri.</p>
<p>Di Bab 12 Pasal 30 ayat 3 UUD 1945 yang sudah diamandemen dinyatakan bahwa: “TNI terdiri dari AD, AL, dan AU sebagai alat negara bertugas mempertahankan, melindungi dan memelihara keutuhan dan kedaulatan Negara.”</p>
<p>Dan di ayat 4 dinyatakan: “Kepolisian Negara Republik Indonesia sebagai alat negara yang menjaga keamanan dan ketertiban masyarakat bertugas melindungi, mengayomi, melayani masyarakat serta menegakkan hukum.”</p>
<p>Negara apa yang kamu lindungi, apa negara yang menerapkan hukum Allah Ta’ala atau negara thaghut? Hukum apa yang kamu tegakkan, apa hukum Allah atau hukum thaghut? Kenapa kalian membela hukum thaghut, padahal kalian ini ciptaan Allah dan akan kembali kepada Allah? Apa kalian tidak sadar bahwa hukum thaghut ini akan menjerumuskan ke dalam jurang neraka jahannam?</p>
<p>Bila saja orang yang sedikit cenderung kepada orang-orang zalim telah diancam Allah Ta’ala dengan sentuhan api neraka, sebagaimana firman-Nya Ta’ala:</p>
<p>“Dan janganlah kamu cenderung kepada orang-orang yang zalim yang menyebabkan kamu disentuh api neraka, dan sekali-kali kamu tiada mempunyai seorang penolongpun selain daripada Allah, Kemudian kamu tidak akan diberi pertolongan.” (QS. Huud: 113)</p>
<p>Sedangkan orang-orang zalim yang paling dasyat adalah kaum musyrikin yaitu para thaghut kalian diantaranya:</p>
<p>“Sesungguhnya syirik adalah benar-benar kezaliman yang besar“. (QS. Lukman: 13)</p>
<p>Kalian ini bukan sekedar cenderung namun menjadi benteng dan kekuatan serta aparat thaghut yang dengannya si thaghut melindungi diri dan memaksakan sistem dan hukum kafirnya, sehingga bila tidak taubat maka nasib kalian dan para thaghut kalian adalah seperti yang Allah firmankan:</p>
<p>“Maka mereka (sembahan-sembahan itu) dijungkirkan ke dalam neraka bersama-sama orang-orang yang sesat, Dan bala tentara Iblis semuanya.” (QS. Asy Syu’araa’: 94: 95)</p>
<p>“Sesungguhnya kamu dan apa yang kamu sembah selain Allah, adalah umpan Jahannam, kamu pasti masuk ke dalamnya. Andaikata berhala-berhala itu Tuhan, tentulah mereka tidak masuk neraka. dan semuanya akan kekal di dalamnya. Mereka merintih di dalam api dan mereka di dalamnya tidak bisa mendengar.” (QS. An Anbiyaa’: 98-100)</p>
<p>Di antara bentuk kafir kepada thaghut adalah tidak berhukum atau merujuk hukum kepadanya. Allah Ta’ala meniadakan iman dari orang yang berpaling dari hukum Allah Ta’ala dan malah merujuk kepada selain hukum Allah (yaitu thaghut). Allah Ta’ala Berfirman:</p>
<p>“Apakah kamu tidak memperhatikan orang-orang yang mengaku dirinya Telah beriman kepada apa yang diturunkan kepadamu dan kepada apa yang diturunkan sebelum kamu? mereka hendak berhakim kepada thaghut, padahal mereka telah diperintah mengingkari thaghut itu. dan syaitan bermaksud menyesatkan mereka (dengan) penyesatan yang sejauh-jauhnya.” (An Nisaa’: 60)</p>
<p>Kalian wahai para penguasa hukum thaghut, para pejabat, para anggota dewan, para hakim dan para jaksa, kepada apa kalian merujuk saat menjalankan dinas syirik kalian? Apa kepada hukum Allah Ta’ala ataukah kepada hukum yang modern (UUD dan Undang-undang lainnya)?</p>
<p>Al Iman Ibnu Katsir rahimahullah berkata tentang status kalian ini:</p>
<p>“Barangsiapa meninggalkan hukum yang baku yang diturunkan kepada Muhammad Ibnu Abdillah penutup para Nabi, dan dia malah berhakim kepada syariat-syariat (Allah) yang sudah dihapus, maka dia kafir. Maka bagaimana gerangan dengan orang yang berhakim kepada Alyasa serta dia mengedepankannya terhadap hukum (Allah), maka dia kafir dengan ijma kaum muslimin”. (Al Badiyah Wan Nihayah: 13/119)</p>
<p>Alyasa adalah yasiq yaitu kitab hukum yang disusun oleh Jenggis Khan, di mana merangkumnya dari ajaran Islam, Nasrani, Yahudi, dan buah pikirannya sendiri, persis seperti hukum yang diibadati kalian sekarang….</p>
<p>Di antara sikap iman kepada thaghut dan kafir kepada Allah Ta’ala adalah memutuskan dengan hukum selain hukum Allah, seperti yang biasa dan merupakan pekerjaan hukum, jaksa dan wali-wali syaitan lainnya. Allah Ta’ala menvonis mereka dengan firman-Nya:</p>
<p>“Barangsiapa tidak memutuskan perkara menurut apa yang diturunkan Allah, Maka mereka itulah orang-orang yang kafir.” (QS. Al Maidah: 44)</p>
<p>“Barangsiapa tidak memutuskan perkara menurut apa yang diturunkan Allah, Maka mereka itulah orang-orang yang zalim. (QS. Al Maidah: 45)</p>
<p>“Barangsiapa tidak memutuskan perkara menurut apa yang diturunkan Allah, Maka mereka itulah orang-orang yang fasik.” (QS. Al Maidah: 47)</p>
<p>Syaikh Muhammad Ibnu Abdil Wahhab rahimahullah berkata di dalam Risalah Fi Ma’na Ath Thaghut saat menuturkan tokoh thaghut:</p>
<p>Yang ketiga: Orang yang memutuskan dengan selain apa yang Allah Ta’ala turunkan, sedangkan dalilnya adalah firman Allah Ta’ala: “Barangsiapa tidak memutuskan dengan apa yang telah Allah turunkan maka mereka itulah orang-orang yang kafir.” (Al Maidah: 44)</p>
<p>Jadi peribadatan atau penyembahan atau pemujaan kepada hukum thaghut itu bukan dengan shalat, sujud, dan ruku’ kepada-nya, akan tetapi ketaatan, kepatuhan, loyalitas, perujukan, dan pemutusan dengannya.</p>
<p>Apakah kalian wahai penguasa negeri, semua anggota dewan, semua pejabat, semua jaksa, semua hakim, semua panitra, barisan tentara, barisan polisi, barisan intelejen, dan para sipir penjara, apakah kalian berada di barisan penegak hukum Allah Ta’ala atau di barisan penegak hukum thaghut yang merupakan golongan syaitan?</p>
<p>“Mereka itulah golongan syaitan. Ketahuilah, bahwa sesungguhnya golongan syaitan itulah golongan yang merugi. Sesungguhnya orang-orang yang menentang Allah dan Rasul-Nya, mereka termasuk orang-orang yang sangat hina.” (QS. Al Mujadilah: 20-21)</p>
<p>Silahkan cari berbagai alasan, pelegalan dan ulama-ulama suu yang mengiyakan apa yang kalian lakukan atau yang mengakui keislaman kalian tapi ingat!</p>
<p>“Siapakah yang akan mendebat Allah untuk (membela) mereka pada hari kiamat? Atau siapakah yang menjadi pelindung mereka (terhadap siksa Allah)?” (QS. An Nisaa: 109)</p>
<p>Bila kalian tidak percaya terhadap apa yang saya katakan maka itu urusan kalian, namun:</p>
<p>“Kelak kamu akan ingat kepada apa yang kukatakan kepada kamu. dan Aku menyerahkan urusanku kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha melihat akan hamba-hamba-Nya.” (QS. Al Mu’min: 44)</p>
<p>Salam sejahtera kepada orang yang mengikuti petunjuk.</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/cipeh.wordpress.com/252/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/cipeh.wordpress.com/252/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/cipeh.wordpress.com/252/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/cipeh.wordpress.com/252/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/cipeh.wordpress.com/252/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/cipeh.wordpress.com/252/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/cipeh.wordpress.com/252/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/cipeh.wordpress.com/252/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/cipeh.wordpress.com/252/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/cipeh.wordpress.com/252/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/cipeh.wordpress.com/252/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/cipeh.wordpress.com/252/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/cipeh.wordpress.com/252/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/cipeh.wordpress.com/252/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=cipeh.wordpress.com&amp;blog=11766244&amp;post=252&amp;subd=cipeh&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://cipeh.wordpress.com/2010/03/01/sudahkah-anda-kafir-kepada-thaghut/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/264b6e5aa49527d70114602e92b7a1e2?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">cipeh</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://cipeh.files.wordpress.com/2010/03/panji-islam.jpg?w=300" medium="image">
			<media:title type="html">panji-islam</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Daftar Kekejian Israel</title>
		<link>http://cipeh.wordpress.com/2010/02/18/daftar-kekejian-israel/</link>
		<comments>http://cipeh.wordpress.com/2010/02/18/daftar-kekejian-israel/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 18 Feb 2010 15:16:14 +0000</pubDate>
		<dc:creator>cipeh</dc:creator>
				<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>
		<category><![CDATA[isRael]]></category>
		<category><![CDATA[paleStina]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://cipeh.wordpress.com/?p=232</guid>
		<description><![CDATA[Daftar Kekejian Israel * Pembantaian Yehida, 1947: 13 tewas. * Pembantaian Khisas, 1947: 10 tewas. * Pembantaian Qazaza, 1947: 5 anak-anak tewas. * Pembantaian di Deir Yassin, 1948: Selama serangan ini, wanita-wanita hamil dicabik perutnya dengan bayonet, anggota tubuhnya dipotong-potong, dan lainnya diperkosa. Sekitar 52 orang anak-anak disayat-sayat tubuhnya di depan mata ibunya, lalu mereka [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=cipeh.wordpress.com&amp;blog=11766244&amp;post=232&amp;subd=cipeh&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<h3 class="entry-header">Daftar Kekejian Israel</h3>
<p><span style="float:left;border-width:1px;margin:2px;padding:2px;"><img style="border:black 1px solid;" src="http://www.snapdrive.net/files/401129/picblog/n663342440_1727836_7719.jpg" alt="" width="308" height="211" /></span></p>
<p class="firstletter">* Pembantaian Yehida, 1947: 13 tewas.<br />
* Pembantaian Khisas, 1947: 10 tewas.<br />
* Pembantaian Qazaza, 1947: 5 anak-anak tewas.<br />
* Pembantaian di Deir Yassin, 1948: Selama serangan ini, wanita-wanita hamil dicabik perutnya dengan bayonet, anggota tubuhnya dipotong-potong, dan lainnya diperkosa. Sekitar 52 orang anak-anak disayat-sayat tubuhnya di depan mata ibunya, lalu mereka<br />
dibunuh secara keji. Lebih dari 280 warga Palestina syahid di tangan zionis.<br />
* Pembantaian Hotel Semirami, 1948: 19 tewas.<br />
* Pembantaian Naser al-Din, 1948: Sekelompok teroris Zionis berpakaian tentara Arab menembaki penduduk kota yang meninggalkan rumahnya untuk menyambut mereka. Hanya 40 orang yang lolos dari pembunuhan ini, dan desa tersebut terhapus dari peta.<span id="more-232"></span></p>
<p><span class="fullpost"><br />
* Pembantaian Tantura, 1948: 200 tewas.<br />
* Pembantaian Mesjid Dahmash, 1948: 100 tewas. Sekitar 60.000 orang Palestina keluar dari negerinya, dan 350 orang lebih tewas dalam perjalanan karena keadaan kesehatan yang parah.<br />
* Pembantaian Dawayma, 1948: 100 tewas. Sebagian besar yang terbunuh tengah berada di mesjid untuk melakukan shalat Jumat.<br />
Wanita-wanita Palestina diperkosa selama serangan ini, sementara rumah-rumahnya diledakkan dengan dinamit, padahal ada orang di dalamnya.<br />
* Pembantaian Houla, 1948: 85 tewas. Tentara Israel memaksa 85 orang untuk masuk ke dalam sebuah rumah, kemudian rumah itu dibakar. Setelah itu, sebagian besar warga yang merasa takut melarikan diri ke Beirut. Dari 12.000 penduduk asli Houla, hanya 1200 orang yang tersisa.<br />
<span class="fullpost"><br />
* Pembantaian Salha, 1948: 105 tewas. Setelah penduduk suatu desa dipaksa masuk ke mesjid, orang-orang tersebut dibakar hingga tak seorang pun yang tersisa hidup-hidup.<br />
* Pembantaian Deir Yassin, 9 April, 1948: Selama serangan ini, wanita-wanita hamil dicabik perutnya dengan bayonet,hidup-hidup.Anggota tubuh korban dipotong-potong, lalu anak-anak dihantam dan diperkosa. Selama pembantaian Deir Yassin, 52 orang<br />
anak-anak disayat-sayat tubuhnya di depan mata ibunya, lalu mereka dibunuh sedang kepalanya dipenggal. Lebih dari 60 orang wanita terbunuh lalu tubuh-tubuh mereka dipotong-potong.<br />
* Pembantaian di Qibya, 1953: 96 tewas. Sebagian besar mayat mengalami luka tembak di belakang kepala, dan banyak yang tanpa kepala. Bersama orang-orang yang tewas di bawah reruntuhan rumah mereka, banyak wanita-wanita dan anak-anak tak berdosa<br />
yang juga dibunuh secara brutal.<br />
* Pembantaian Kafr Qasem, 1956: 49 tewas. Pembantaian Khan Yunis, 1956: 275 tewas.<br />
* Pembantaian di Kota Gaza, 1956: 60 tewas:<br />
* Pembantaian Fakhani, 1981: 150 tewas.<br />
* Pembantaian Sabra dan Shatila, Lebanon, 1982: Merenggut nyawa lebih dari 3.000 warga Palestina. Arsitek pembantaian itu adalah Ariel Sharon yang bekerjasama dengan kelompok Phalangis Kristen, Lebanon.(Catatan: Setelah Perang 1967, Sharon menyebabkan<br />
160.000 orang Palestina meninggalkan Yerusalem Timur dan menjadi pengungsi. Ketika<br />
Sharon menjadi penanggung jawab keamanan di Jalur Gaza, 16.000 orang diusir untuk kedua kalinya).<br />
* Pembantaian di Masjid Aqsa, 1990: 11 syahid dan 800 terluka.<br />
* Pembantaian di Mesjid Ibrahimi, 1994: Lebih dari 50 orang Islam tewas dan 300 orang luka-luka.<br />
* Pembantaian Qana, 1996: 109 tewas. Pemandangan mengerikan karena pembantaian ini, termasuk anak-anak yang dipenggal kepalanya, tidak akan pernah terlupakan.</span><br />
</span></p>
<p>Contoh-contoh yang disebutkan di atas hanyalah pembantaian ketika banyak orang-orang Palestina kehilangan jiwanya dalam satu hari saja.<br />
Di luar ini, puluhan orang dibantai setiap harinya selama puluhan tahun, bahkan hingga detik ini. Ironisnya, selama itu pula para penguasa Arab dan Muslim hanya diam, bahkan sebagiannya bersekongkol dengan Israel dan AS.</p>
<p>Hanya Jihad para tentara MUSLIM saja yang dapat<br />
menghentikan kebiadaban Israel.<br />
takbir…<br />
khaibar khaibar ya yahudi<br />
pasukan muhammad akan kembali</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/cipeh.wordpress.com/232/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/cipeh.wordpress.com/232/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/cipeh.wordpress.com/232/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/cipeh.wordpress.com/232/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/cipeh.wordpress.com/232/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/cipeh.wordpress.com/232/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/cipeh.wordpress.com/232/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/cipeh.wordpress.com/232/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/cipeh.wordpress.com/232/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/cipeh.wordpress.com/232/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/cipeh.wordpress.com/232/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/cipeh.wordpress.com/232/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/cipeh.wordpress.com/232/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/cipeh.wordpress.com/232/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=cipeh.wordpress.com&amp;blog=11766244&amp;post=232&amp;subd=cipeh&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://cipeh.wordpress.com/2010/02/18/daftar-kekejian-israel/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/264b6e5aa49527d70114602e92b7a1e2?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">cipeh</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://www.snapdrive.net/files/401129/picblog/n663342440_1727836_7719.jpg" medium="image" />
	</item>
		<item>
		<title>Harus Ada Niat Untuk Berjihad</title>
		<link>http://cipeh.wordpress.com/2010/02/17/harus-ada-niat-untuk-berjihad/</link>
		<comments>http://cipeh.wordpress.com/2010/02/17/harus-ada-niat-untuk-berjihad/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 17 Feb 2010 09:02:22 +0000</pubDate>
		<dc:creator>cipeh</dc:creator>
				<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>
		<category><![CDATA[jihad]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://cipeh.wordpress.com/?p=216</guid>
		<description><![CDATA[Harus Ada Niat Untuk Berjihad Segala puji bagi Allah yang telah mewajibkan ibadah jihad. Dengannya, Allah menjanjikan bagi mujahidin memperoleh kekuasaan di muka bumi dan kemenangan atas orang-orang kafir. Shalalwat dan salam semoga tercurah kepada Nabi Muhammad. Manusia terbaik. Dia telah berjihad di jalan Allah dengan sebenar-benarnya jihad hingga ajal menjemputnya. Semoga shalawat dan salam [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=cipeh.wordpress.com&amp;blog=11766244&amp;post=216&amp;subd=cipeh&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<h2>Harus Ada Niat Untuk Berjihad</h2>
<p><a href="http://cipeh.files.wordpress.com/2010/02/timthumbca8efxe8.jpg"><img class="alignleft size-medium wp-image-217" title="timthumbCA8EFXE8" src="http://cipeh.files.wordpress.com/2010/02/timthumbca8efxe8.jpg?w=300&#038;h=198" alt="" width="300" height="198" /></a>Segala puji bagi Allah yang telah mewajibkan ibadah jihad. Dengannya, Allah menjanjikan bagi mujahidin memperoleh kekuasaan di muka bumi dan kemenangan atas orang-orang kafir. Shalalwat dan salam semoga tercurah kepada Nabi Muhammad. Manusia terbaik. Dia telah berjihad di jalan Allah dengan sebenar-benarnya jihad hingga ajal menjemputnya. Semoga shalawat dan salam juga terlimpah kepada keluarganya, para sahabat, dan umatnya yang berpegang dengan sunnah-sunnahnya.</p>
<p>Zaman kita ini adalah zaman ujian dan fitnah terhadap Islam yang belum pernah terjadi sepanjang sejarah. Dunia tanpa terkecuali mengumumkan perang terhadap terorisme, maksudnya terhadap jihad. Dunia menolak terorisme dengan segala bentuknya, namun hanya ditujukan kepada kaum muslimin. Akhirnya Islam dan kaum muslimin menjadi pihak tertuduh.</p>
<blockquote><p><strong><em>Di manapun engkau melihat Islam di suatu negeri </em></strong></p>
<p><strong><em>Engkau akan dapati, ia laksana burung yang patah kedua sayapnya</em></strong></p></blockquote>
<p><span id="more-216"></span>Kelompok Islam yang teguh memerangi kesyirikan dan kekufuran berikut para pemeluknya karena kedzaliman mereka, menjadi terget utama. Bangsa-bangsa kafir dan para sekutunya mengerumuni mereka dari berbagai penjuru. Namun, Allah memberikan keteguhan sehingga mereka tetap eksis di atas jalan jihad. Tidak akan membahayakan mereka, baik oleh orang-orang yang menelantarkan mereka dari kalangan umat Islam yang enggan berjihad, penakut, atau tenggelam dalam kehidupan dunia yang hina. Demikian juga, tidak akan membahayakan mereka orang-orang kafir, murtad, dan para pelaku bid&#8217;ah sesat yang senantiasa menyelisihi dan menentang jalan mereka. Kelompok itu adalah<em> Thaifah Manshurah</em>, seperti yang disabdakan Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alaihi wasallam</em>,</p>
<p><strong>لَا تَزَالُ طَائِفَةٌ مِنْ أُمَّتِي ظَاهِرِينَ عَلَى الْحَقِّ لَا يَضُرُّهُمْ مَنْ خَذَلَهُمْ وَلاَ مَنْ خَالَفَهُمْ حَتَّى يَأْتِيَ أَمْرُ اللَّهِ</strong></p>
<p>&#8220;<em>Akan senantiasa ada sekelompok kecil dari umatku yang tampil di atas kebenaran. Tidak akan membawa madharat bagi mereka orang-orang yang menelantarkan mereka dan tidak pula orang-orang yang menyelisihi mereka sehingga datang urusan Allah . .</em>&#8221; (HR. Muslim dan Ahmad). Dan salah satu ciri utama mereka adalah senantiasa berjihad di jalan Allah.</p>
<p>Jihad adalah satu-satunya alternatif bagi umat Islam untuk melawan agresor kaum kafir yang telah menguasai negeri-negeri kaum muslimin pada hari ini. Allah Ta&#8217;ala berfirman:<br />
<strong>وَلَا يَزَالُونَ يُقَاتِلُونَكُمْ حَتَّى يَرُدُّوكُمْ عَنْ دِينِكُمْ إِنِ اسْتَطَاعُوا</strong></p>
<p>&#8220;<em>Mereka tidak henti-hentinya memerangi kamu sampai mereka (dapat) mengembalikan kamu dari agamamu (kepada kekafiran), seandainya mereka sanggup.</em>&#8221; (QS. Al Baqarah: 217)</p>
<p>Di dalam jihad terdapat kebaikan dunia dan akhirat. Sebaliknya meninggalkan jihad terdapat kerugian dunia dan akhriat. Allah Ta&#8217;ala berfirman,</p>
<p><strong>قُلْ هَلْ تَرَبَّصُونَ بِنَا إِلَّا إِحْدَى الْحُسْنَيَيْنِ</strong></p>
<p>&#8220;<em>Katakanlah: &#8216;tidak ada yang kamu tunggu-tunggu bagi kami, kecuali salah satu dari dua kebaikan. . .</em> &#8221; (QS. Al Taubah: 52)</p>
<p>Yaitu, bisa jadi kemenangan dan kekuasaan serta boleh jadi kesyahidan (mati syahid) dan surga. Mujahid yang masih hidup akan meraih kemuliaan di dunia dan memperoleh pahala di dunia dan pahala akhirat. Mujahid yang gugur maka dia masuk surga. Nabi <em>shallallahu &#8216;alaihi wasallam</em> bersabda:</p>
<p><strong>يُعْطَى الشَّهِيدُ سِتَّ خِصَالٍ عِنْدَ أَوَّلِ قَطْرَةٍ مِنْ دَمِهِ يُكَفَّرُ عَنْهُ كُلُّ خَطِيئَةٍ وَيُرَى مَقْعَدَهُ مِنْ الْجَنَّةِ وَيُزَوَّجُ مِنْ الْحُورِ الْعِينِ وَيُؤَمَّنُ مِنْ الْفَزَعِ الْأَكْبَرِ وَمِنْ عَذَابِ الْقَبْرِ وَيُحَلَّى حُلَّةَ الْإِيمَانِ</strong></p>
<p>&#8220;<em>Orang yang mati syahid akan diberikan padanya enam bagian: Dia diampuni semenjak tetesan pertama darahnya, diperlihatkan tempatnya di surga, dikenakan pakaian iman, dinikahkan dengan 72 bidadari surga, dijaga dari fitnah kubur, dan aman dari guncangan akbar (pada hari kiamat).</em>&#8221; (HR. Ahmad, Ibnu Majah, dan lainnya) dan keutamaan-keutamaan lainnya masih sangat banyak.</p>
<p><strong>Meniatkan diri untuk berjihad</strong></p>
<p>Seorang muslim yang menyadari kondisi zamannya dan memahami janji Allah dalam ibadah jihad akan bertekad memenuhi panggilan jihad kapan saja panggilan itu datang. Ia senantiasa bersiap diri dan berjanji untuk segera berjihad jika diminta berangkat atau diminta pertolongan oleh rekan-rekannya. Nabi <em>shallallahu &#8216;alaihi wasallam</em> bersabda, &#8220;<em>apabila kalian diminta untuk berangkat maka berangkatlah.</em>&#8221; (HR. al Bukhari dalam Shahihnya)</p>
<p>Apabila seseorang telah meniatkan diri berjihad, kemudian tertinggal dari jihad atau tidak mampu berangkat jihad, pasti dia bersedih. Allah telah menceritakan kisah tentang kaum &#8216;<em>Asy&#8217;ariyin</em> –yaitu para sahabat yang tidak mampu membekali diri untuk berangkat jihad–; &#8220;<em>Dan tiada (pula dosa) atas orang-orang yang apabila mereka datang kepadamu, supaya kamu memberi mereka kendaraan, lalu kamu berkata: &#8220;Aku tidak memperoleh kendaraan untuk membawamu&#8221;, lalu mereka kembali, sedang mata mereka bercucuran air mata karena kesedihan, lantaran mereka tidak memperoleh apa yang akan mereka nafkahkan.</em>&#8221; (QS. Al Taubah: 92)</p>
<p>Termasuk bukti keseriusan nita seseorang untuk berjihad adalah bersedih dan menyesal ketika dia tertinggal dari jihad di jalan Allah, lalu keadaannya seperti yang diungkap dalam sebuah sya&#8217;ir:</p>
<blockquote><p><strong><em>Tatkala disebutkan perang dan syahadah</em></strong></p>
<p><strong><em>Berkobarlah kerinduanku kepada jannah</em></strong></p>
<p><strong><em>Tatkala singa Allah meraung di medan perang</em></strong></p>
<p><strong><em>Menyalalah kerinduan kepada jihad dengan terang</em></strong></p>
<p><strong><em>Aduhai diriku yang berjihad pun tak lagi mampu</em></strong></p>
<p><strong><em>Betapa sedih saat ini karena menyesali masa yang telah lalu</em></strong></p></blockquote>
<p>Adapun orang yang mengatakan, &#8220;Al Hamdulillah, Allah tidak membutuhkan bantuan kita,&#8221; ketika tertutup jalan atau tidak bisa berjihad. Maka orang semacam ini tergolong orang yang membenci jihad dan tidak punya tekad berjihad. Orang seperti ini serupa dengan kaum munafikin yang membenci jihad, tidak mau keluar berjihad kecuali karena terpaksa. Kalaupun mereka keluar ke medan jihad, mereka hanya melemahkan semangat jihad kaum muslimin dan berlari ketika bertemu musuh.</p>
<p>Sungguh sangat jauh berbeda antara orang yang menangis dan bersedih tatkala tertinggal jihad dengan orang yang menyembunyikan rasa senang dalam hatinya karena mendapatkan <em>udzur </em>(alasan) untuk tidak berjihad. Allah Mahatahu rahasia di dalam hati. Meniatkan diri untuk berjihad akan melenyapkan penyakit nifak dari diri seseorang.</p>
<p>Dalam Shahih Muslim, dari Abu Hurairah, Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alaihi wasallam</em> bersabda,</p>
<p><strong>مَنْ مَاتَ وَلَمْ يَغْزُ, وَلَمْ يُحَدِّثْ نَفْسَهُ بِهِ, مَاتَ عَلَى شُعْبَةٍ مِنْ نِفَاقٍ</strong></p>
<p>&#8220;<em>Barangsiapa meninggal dunia sementara dia belum pernah berperang atau meniatkan diri untuk berperang, maka dia mati di atas satu cabang dari kemunafikan.</em>&#8220;</p>
<p>Imam an Nawawi <em>rahimahullah </em>berkata dalam <em>al Minhaj</em>, &#8220;maknanya siapa yang melakukan ini, maka dia mirip dengan orang-orang munafik yang tertinggal dari jihad dalam sifat ini. Sebab meninggalkan jihad adalah satu cabang kemunafikan.&#8221; (Al Minhaj: 13/50)</p>
<p>Syaikhul Islam mengatakan dalam <em>al Fatawa</em>, &#8220;yang dimaksud dengan nifak kecil adalah nifak dalam amal dan yang serupa, seperti berbohong ketika bicara, ingkar ketika berjanji, berhianat ketika diberi amanat, atau berlebihan ketika bertengkar. Termasuk dalam masalah ini adalah berpaling dari jihad. Sikap ini termasuk karakter orang-orang munafik. Nabi shallallahu &#8216;alaihi wasallam bersabda, &#8220;<em>barangsiapa meninggal dunia sementara dia belum pernah berperang atau meniatkan diri untuk berperang, maka dia meninggal di atas satu cabang kenifakan.</em>&#8221; (HR. Muslim)</p>
<p>Allah menurunkan surat Al Bara-ah (At Taubah) yang juga disebut Al Fadhihah (penyingkap) karena surat ini menyingkap orang-orang munafik. Diriwayatkan dalam Shahihain, dari Ibnu &#8216;Abbas <em>radliyallah &#8216;anhu </em>berkata, &#8220;surat al Fadhihah ini turun dengan selalu menyebut &#8216;dan mereka dan di antara mereka&#8217; hingga para sahabat pun menyangka tidak tersisa seorang pun kecuali disebutkan dalam surat ini.&#8221;</p>
<p>Surat al Taubah ini turun di akhir peperangan Nabi <em>shallallahu &#8216;alaihi wasallam</em>, yaitu perang Tabuk tahun 9 Hijriyah. Pada saat itu Islam mendapatkan kemenangan. Maka, Allah menyingkap keadaan orang-orang munafik dan menyifati mereka sebagai pengecut dan meninggalkan jihad. Allah juga menyifati mereka sebagai orang bakhil dalam berinfak di jalan Allah dan pelit terhadap hartanya. Inilah dua penyakit besar: pengecut dan bakhil. Nabi shallallahu &#8216;alaihi wasallam bersabda:</p>
<p><strong>شَرُّ مَا فِي رَجُلٍ شُحٌّ هَالِعٌ وَجُبْنٌ خَالِعٌ</strong></p>
<p>&#8220;<em>Seburuk-buruk sesuatu yang terdapat pada seseorang adalah kikir lagi suka berkeluh kesah dan pengecut lagi lemah.</em>&#8221; (HR Abu Dawud)</p>
<p>Allah Ta&#8217;ala berfirman:</p>
<p><strong>إِنَّمَا الْمُؤْمِنُونَ الَّذِينَ آَمَنُوا بِاللَّهِ وَرَسُولِهِ ثُمَّ لَمْ يَرْتَابُوا وَجَاهَدُوا بِأَمْوَالِهِمْ وَأَنْفُسِهِمْ فِي سَبِيلِ اللَّهِ أُولَئِكَ هُمُ الصَّادِقُونَ</strong></p>
<p>&#8220;<em>Sesungguhnya orang-orang yang beriman hanyalah orang-orang yang beriman kepada Allah dan Rasul-Nya kemudian mereka tidak ragu-ragu dan mereka berjihad dengan harta dan jiwa mereka pada jalan Allah, mereka itulah orang-orang yang benar.</em>&#8221; (QS. Al Hujuraat: 15)</p>
<p>Dalam ayat di atas, Allah membatasi orang mukmin pada orang yang beriman dan berjihad. Sebaliknya, Allah mengabarkan orang yang menjauhi jihad bukan orang beriman. Allah berfirman (artinya); &#8220;<em>Sesungguhnya yang akan meminta izin kepadamu, hanyalah orang-orang yang tidak beriman kepada Allah dan hari kemudian, dan hati mereka ragu-ragu, karena itu mereka selalu bimbang dalam keragu-raguannya.</em>&#8221; (QS. Al Taubah: 45)</p>
<p>Allah memberitahukan bahwa orang beriman tidak akan meminta izin meninggalkan jihad. Dan orang-orang yang meminta izin adalah orang yang tidak beriman. Lalu bagaimana dengan orang yang meninggalkan jihad tanpa izin?&#8221; (Majmu&#8217; Fatawa: 28/436)</p>
<p>Berhati-hatilah Anda, wahai saudaraku, agar tidak menyerupai orang munafik dan tidak meninggal dunia dengan menyimpan satu cabang dari kenifakan. Adapun orang yang mencela mujahidin dan mencela jihad dengan berbagai cara dan sebutan, seperti tergesa-gesa, tidak bermusyawarah dulu, maka seperti yang diungkapkan dalam sebuah sya&#8217;i:</p>
<blockquote><p><strong><em>Wahai kalian yang mencela pemuda kami karena jihadnya<br />
</em></strong></p>
<p><strong><em>Berhentilah mengecam dan mencela</em></strong></p>
<p><strong><em>Pantaskah dicela orang yang merindukan surga dan semerbak aromanya</em></strong></p>
<p><strong><em>Dia selalu menempuh jalan para penghuninya</em></strong></p>
<p><strong><em>Pantaskah dicela orang yang meninggalkan dunia dan permainannya</em></strong></p>
<p><strong><em>Dia bergegas menuju medan jihad dengan tekad bebas mulia</em></strong></p>
<p><strong><em>Pantaskan dicela orang dibeli Allah jiwanya</em></strong></p>
<p><strong><em>Dia berharap surga Firdaus yang kekal tiada fana</em></strong></p>
<p><strong><em>Janganlah kalian mencela jihad dan pembelanya</em></strong></p>
<p><strong><em>Karena itu tanda kemunafikan, maka hati-hatilah dan waspada</em></strong></p>
<p><strong><em>Siapa yang belum pernah meniatkan diri untuk berjihad atau juga</em></strong></p>
<p><strong><em>Belum pernah berjihad lalu meninggal dunia, maka dia meninggal dunia secara buruk lagi hina</em></strong></p></blockquote>
<blockquote><p><strong><em>Sesungguhnya jihad adalah jalan kemuliaan kita</em></strong></p>
<p><strong><em>Meninggalkannya menjadikan hidup kita hina dan menderita</em></strong></p></blockquote>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/cipeh.wordpress.com/216/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/cipeh.wordpress.com/216/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/cipeh.wordpress.com/216/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/cipeh.wordpress.com/216/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/cipeh.wordpress.com/216/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/cipeh.wordpress.com/216/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/cipeh.wordpress.com/216/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/cipeh.wordpress.com/216/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/cipeh.wordpress.com/216/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/cipeh.wordpress.com/216/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/cipeh.wordpress.com/216/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/cipeh.wordpress.com/216/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/cipeh.wordpress.com/216/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/cipeh.wordpress.com/216/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=cipeh.wordpress.com&amp;blog=11766244&amp;post=216&amp;subd=cipeh&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://cipeh.wordpress.com/2010/02/17/harus-ada-niat-untuk-berjihad/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/264b6e5aa49527d70114602e92b7a1e2?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">cipeh</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://cipeh.files.wordpress.com/2010/02/timthumbca8efxe8.jpg?w=300" medium="image">
			<media:title type="html">timthumbCA8EFXE8</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>BERDOA SUPAYA BEROLEH MATI SYAHID</title>
		<link>http://cipeh.wordpress.com/2010/02/10/berdoa-supaya-beroleh-mati-syahid/</link>
		<comments>http://cipeh.wordpress.com/2010/02/10/berdoa-supaya-beroleh-mati-syahid/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 10 Feb 2010 07:10:31 +0000</pubDate>
		<dc:creator>cipeh</dc:creator>
				<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>
		<category><![CDATA[fisabilillah]]></category>
		<category><![CDATA[islam]]></category>
		<category><![CDATA[jihad]]></category>
		<category><![CDATA[syahid]]></category>
		<category><![CDATA[syuhada]]></category>
		<category><![CDATA[syurga]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://cipeh.wordpress.com/?p=212</guid>
		<description><![CDATA[Tingginya Nilai Mati Syahid Di sisi Allah s.w.t. Allahu Subhanahu wa Ta&#8217;ala berfirman yg bermaksud : &#8220;Janganlah kamu mengira bahwa orang-orang yang gugur di jalan Allah itu mati, bahkan mereka itu hidup di sisi Tuhannya dengan mendapat rezeki. Mereka dalam keadaan gembira disebabkan kurnia Allah yang diberikan kepada mereka, dan mereka bergirang hati terhadap orang-orang [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=cipeh.wordpress.com&amp;blog=11766244&amp;post=212&amp;subd=cipeh&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div>Tingginya Nilai Mati Syahid Di sisi Allah s.w.t.</div>
<p><a href="http://cipeh.files.wordpress.com/2010/02/22152_105882352761152_100000181634871_151588_7699943_n.jpg"><img class="alignleft size-medium wp-image-213" title="22152_105882352761152_100000181634871_151588_7699943_n" src="http://cipeh.files.wordpress.com/2010/02/22152_105882352761152_100000181634871_151588_7699943_n.jpg?w=300&#038;h=225" alt="" width="300" height="225" /></a>Allahu Subhanahu wa Ta&#8217;ala berfirman yg bermaksud :<br />
&#8220;Janganlah kamu mengira bahwa orang-orang yang gugur di jalan Allah itu mati, bahkan mereka itu hidup di sisi Tuhannya dengan mendapat rezeki. Mereka dalam keadaan gembira disebabkan kurnia Allah yang diberikan kepada mereka, dan mereka bergirang hati terhadap orang-orang yang masih tinggal di belakang yang belum menyusul mereka, bahwa tidak ada kekhuatiran terhadap mereka dan tidak (pula) mereka bersedih.&#8221; (QS Ali &#8216;Imran : 169-170)</p>
<p>Rasulullah s.a.w. bersabda yg bermaksud :<br />
&#8220;Diampuni orang yang mati syahid segala dosanya kecuali hutang.&#8221; (HR Muslim)</p>
<p>Penjelasan:<br />
Di antara keutamaan orang yang mati syahid ialah diampuni semua dosanya kecuali hutang. Sebab hutang ini hak Adami (manusia) yang mesti diselesaikan sesuai dengan hak-hak Adami pula ketika masih hidup atau diselesaikan oleh ahli warisnya.</p>
<p>Orang yang mati Syahid Sahaja Yang Mengharap Kembali Ke Dunia.</p>
<p>Rasulullah s.a.w. bersabda yg bermaksud :<br />
&#8220;Tidak seorang pun yang telah masuk syurga, ingin kembali ke dunia walaupun bagaimana besar kekayaannya di dunia, kecuali orang yang mati syahid. Dia mengharapkan kembali ke dunia hingga dibunuh kembali sepuluh kali dalam (perang fisabilillah). Sebab kemulian yg dilihatnya (yang diberikan kepadanya). &#8220;Dalam riwayat lain. &#8220;Sebab melihat keutamaan mati syahid.&#8221; (HR Bukhari dan Muslim)</p>
<p>Wahai Ahli Keluarga yang mendapat keberuntungan asbab ada di kalangan ahlinya yang mati syahid&#8230;</p>
<p>Rasulullah s.a.w. bersabda yg bermaksud :<br />
&#8220;Orang yang mati syahid diberi syafaat (Ipertolongan) di dalam tujuh puluh dari ahli keluarganya.&#8221; (HR Abu Dawud)</p>
<p>Rasulullah s.a.w. bersabda yg bermaksud :<br />
&#8220;Sesiapa minta mati syahid kepada Allah dengan kesungguhan, nescaya Allah akan menyampaikannya ke tingkat orang-orang yang mati syahid, walaupun dia mati di tempat tidurnya.&#8221; (HR Muslim)</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/cipeh.wordpress.com/212/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/cipeh.wordpress.com/212/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/cipeh.wordpress.com/212/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/cipeh.wordpress.com/212/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/cipeh.wordpress.com/212/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/cipeh.wordpress.com/212/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/cipeh.wordpress.com/212/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/cipeh.wordpress.com/212/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/cipeh.wordpress.com/212/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/cipeh.wordpress.com/212/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/cipeh.wordpress.com/212/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/cipeh.wordpress.com/212/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/cipeh.wordpress.com/212/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/cipeh.wordpress.com/212/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=cipeh.wordpress.com&amp;blog=11766244&amp;post=212&amp;subd=cipeh&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://cipeh.wordpress.com/2010/02/10/berdoa-supaya-beroleh-mati-syahid/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/264b6e5aa49527d70114602e92b7a1e2?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">cipeh</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://cipeh.files.wordpress.com/2010/02/22152_105882352761152_100000181634871_151588_7699943_n.jpg?w=300" medium="image">
			<media:title type="html">22152_105882352761152_100000181634871_151588_7699943_n</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Tak Pernah Sholat, Wanita Mati Saat Berdandan</title>
		<link>http://cipeh.wordpress.com/2010/02/08/tak-pernah-sholat-wanita-mati-saat-berdandan/</link>
		<comments>http://cipeh.wordpress.com/2010/02/08/tak-pernah-sholat-wanita-mati-saat-berdandan/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 08 Feb 2010 09:07:48 +0000</pubDate>
		<dc:creator>cipeh</dc:creator>
				<category><![CDATA[al hadits]]></category>
		<category><![CDATA[Al Islam]]></category>
		<category><![CDATA[alQur&#039;an]]></category>
		<category><![CDATA[qital]]></category>
		<category><![CDATA[bekal]]></category>
		<category><![CDATA[harikiamat]]></category>
		<category><![CDATA[jenazah]]></category>
		<category><![CDATA[kuburan]]></category>
		<category><![CDATA[mayat]]></category>
		<category><![CDATA[siksakubur]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://cipeh.wordpress.com/?p=199</guid>
		<description><![CDATA[Temanku berkata kepadaku, “Ketika perang teluk berlangsung, aku sedang berada di Mesir dan sebelum perang meletus, aku sudah terbiasa menguburkan mayat di Kuwait yang aku ketahui dari masyarakat setempat. Salah seorang familiku menghubungiku meminta agar menguburkan ibu mereka yang meninggal. Aku pergi ke pekuburan dan aku menunggu di tempat memandikan mayat. Di sana aku melihat [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=cipeh.wordpress.com&amp;blog=11766244&amp;post=199&amp;subd=cipeh&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://cipeh.files.wordpress.com/2010/02/mayat1.jpg"><img class="alignleft size-medium wp-image-200" title="mayat1" src="http://cipeh.files.wordpress.com/2010/02/mayat1.jpg?w=300&#038;h=248" alt="" width="300" height="248" /></a>Temanku berkata kepadaku, “Ketika perang teluk berlangsung, aku sedang berada di Mesir dan sebelum perang meletus, aku sudah terbiasa menguburkan mayat di Kuwait yang aku ketahui dari masyarakat setempat. Salah seorang familiku menghubungiku meminta agar menguburkan ibu mereka yang meninggal. <span id="more-199"></span>Aku pergi ke pekuburan dan aku menunggu di tempat memandikan mayat. Di sana aku melihat empat wanita berhijab bergegas meninggalkan tempat memandikan mayat tersebut. Aku tidak menanyakan sebab mereka keluar dari tempat itu karena memang bukan urusanku. Beberapa menit kemudian wanita yang memandikan mayat keluar dan memintaku agar menolongnya memandikan mayat tersebut. Aku katakan kepadanya, ‘Ini tidak boleh, karena tidak halal bagi seorang lelaki melihat aurat wanita.’ Tetapi ia mengemukakan alasannya bahwa jenazah wanita yang satu ini sangat besar. Kemudian wanita itu kembali masuk dan memandikan mayat tersebut. Setelah selesai dikafankan, ia memanggil kami agar mayat tersebut diusung. Karena jenazah ini terlalu berat, kami berjumlah sebelas orang masuk ke dalam untuk mengangkatnya. Setelah sampai di lubang kuburan (kebiasaan penduduk Mesir membuat pekuburan seperti ruangan lalu dengan menggunakan tangga, mereka menurunkan mayat ke ruangan tersebut dan meletakkannya di dalamnya dengan tidak ditimbun). Kami buka lubang masuknya dan kami turunkan dari pundak kami. Namun tiba-tiba jenazahnya terlepas dan terjatuh ke dalam dan tidak sempat kami tangkap kembali hingga aku mendengar dari gemeretak tulangnya yang patah ketika jenazah itu jatuh. Aku melihat ke dalam ternyata kain kafannya sedikit terbuka sehingga terlihat auratnya. Aku segera melompat ke jenazah dan menutup aurat tersebut. Lalu dengan susah payah aku menyeretnya ke arah kiblat dan aku buka kafan di bagian mukanya. Aku melihat pemandangan yang aneh. Matanya terbe-lalak dan berwarna hitam. Aku menjadi takut dan segera memanjat ke atas dengan tidak menoleh ke belakang lagi. Setelah sampai di apartemen, aku menghubungi salah seorang anak perempuan jenazah. Ia bersumpah agar aku menceritakan apa yang terjadi saat memasukkan jenazah ke dalam kuburan. Aku berusaha untuk mengelak, namun ia terus mendesakku hingga akhirnya terpaksa harus memberitahukannya. Ia berkata, “Ya Syaikh (panggilan yang sering diucapkan kepada seorang ustadz-red), ketika anda melihat kami bergegas keluar dikarenakan kami melihat wajah ibu kami menghitam, karena ibu kami tidak pernah sekalipun melaksanakan shalat dan meninggal dalam keadaan berdandan.” Kisah nyata ini menegaskan bahwa Allah SWT menghendaki agar sebagian hamba-Nya melihat bekas Su’ul khatimah hamba-Nya yang durhaka agar menjadi pelajaran bagi yang masih hidup. Sesungguhnya yang demikian itu merupakan pelajaran bagi orang-orang yang berakal.</p>
<p>(SUMBER: Serial Kisah Teladan karya Muhammad bin Shalih al-Qahthani, Juz 2 seperti yang dinukilnya dari Kisah-Kisah Nyata karya Abdul Hamid Jasim al-Bilaly, PENERBIT DARUL HAQ)</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/cipeh.wordpress.com/199/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/cipeh.wordpress.com/199/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/cipeh.wordpress.com/199/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/cipeh.wordpress.com/199/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/cipeh.wordpress.com/199/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/cipeh.wordpress.com/199/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/cipeh.wordpress.com/199/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/cipeh.wordpress.com/199/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/cipeh.wordpress.com/199/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/cipeh.wordpress.com/199/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/cipeh.wordpress.com/199/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/cipeh.wordpress.com/199/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/cipeh.wordpress.com/199/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/cipeh.wordpress.com/199/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=cipeh.wordpress.com&amp;blog=11766244&amp;post=199&amp;subd=cipeh&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://cipeh.wordpress.com/2010/02/08/tak-pernah-sholat-wanita-mati-saat-berdandan/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/264b6e5aa49527d70114602e92b7a1e2?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">cipeh</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://cipeh.files.wordpress.com/2010/02/mayat1.jpg?w=300" medium="image">
			<media:title type="html">mayat1</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Si fakir yang tawaddhu&#8217;</title>
		<link>http://cipeh.wordpress.com/2010/02/03/si-fakir-yang-tawaddhu/</link>
		<comments>http://cipeh.wordpress.com/2010/02/03/si-fakir-yang-tawaddhu/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 03 Feb 2010 08:14:40 +0000</pubDate>
		<dc:creator>cipeh</dc:creator>
				<category><![CDATA[Al Islam]]></category>
		<category><![CDATA[angkuh]]></category>
		<category><![CDATA[fakir]]></category>
		<category><![CDATA[miskin]]></category>
		<category><![CDATA[sabar]]></category>
		<category><![CDATA[tawaddhu']]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://cipeh.wordpress.com/?p=185</guid>
		<description><![CDATA[Pada suatu hari Rasulullah saw duduk-duduk bersama seorang fakir miskin, lalu datang orang kaya menemuinya. Kebetulan dia tidak mendapat tempat lain, kecuali tempat di sebelah fakir miskin yang masih kosong. Namun kemudian dia menarik-narik ujung-ujung kainnya agar jangan sampai menyentuh pakaian dan badan si fakir miskin. Melihat tingkah laku yang demikian, rasulullah bertanya,&#8221;Kenapa kamu menarik-narik [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=cipeh.wordpress.com&amp;blog=11766244&amp;post=185&amp;subd=cipeh&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Pada suatu hari Rasulullah saw duduk-duduk bersama seorang fakir miskin, lalu datang orang kaya menemuinya. Kebetulan dia tidak mendapat tempat lain, kecuali tempat di sebelah fakir miskin yang masih kosong. Namun kemudian dia menarik-narik ujung-ujung kainnya agar jangan sampai menyentuh pakaian dan badan si fakir miskin. Melihat tingkah laku yang demikian, rasulullah bertanya,&#8221;Kenapa kamu menarik-narik ujung-ujung kainmu? Apakah kamu khawatir kekayaanmu sampai menyentuh si fakir ini?&#8221;</p>
<p><a href="http://cipeh.files.wordpress.com/2010/02/anak-kelaparan.jpg"><img class="alignleft size-medium wp-image-188" title="anak-kelaparan" src="http://cipeh.files.wordpress.com/2010/02/anak-kelaparan.jpg?w=300&#038;h=194" alt="" width="300" height="194" /></a></p>
<p>Orang kaya itu benar-benar terpukul dengan teguran rasulullah, lalu katanya dengan nada menyesal,&#8217;Ya rasulullah, sebagai kifarat atas dosa-dosaku, aku akan memberikan setengah dari hartaku kepada orang fakir ini.&#8221;</p>
<p>Rasulullah bertanya kepada si fakir,&#8221;Ya abdallah, maukah kau menerima hibahnya?&#8221;</p>
<p>Namun si fakir menjawab,&#8221; tidak ya Rasulullah.&#8221;</p>
<p>Rasulullah bertanya dengan nada heran,&#8221; Mengapa?&#8221;</p>
<p>Dia menjawab,&#8221; Aku tidak ingin kaya ya Rasulullah. Aku takut menjadi sombong kepada makhluk Allah seperti yang tadi dilakukan orang ini.&#8221;</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/cipeh.wordpress.com/185/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/cipeh.wordpress.com/185/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/cipeh.wordpress.com/185/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/cipeh.wordpress.com/185/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/cipeh.wordpress.com/185/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/cipeh.wordpress.com/185/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/cipeh.wordpress.com/185/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/cipeh.wordpress.com/185/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/cipeh.wordpress.com/185/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/cipeh.wordpress.com/185/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/cipeh.wordpress.com/185/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/cipeh.wordpress.com/185/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/cipeh.wordpress.com/185/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/cipeh.wordpress.com/185/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=cipeh.wordpress.com&amp;blog=11766244&amp;post=185&amp;subd=cipeh&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://cipeh.wordpress.com/2010/02/03/si-fakir-yang-tawaddhu/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/264b6e5aa49527d70114602e92b7a1e2?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">cipeh</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://cipeh.files.wordpress.com/2010/02/anak-kelaparan.jpg?w=300" medium="image">
			<media:title type="html">anak-kelaparan</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Penyakit Riya’ dan Gila Popularitas</title>
		<link>http://cipeh.wordpress.com/2010/02/02/penyakit-riya%e2%80%99-dan-gila-popularitas/</link>
		<comments>http://cipeh.wordpress.com/2010/02/02/penyakit-riya%e2%80%99-dan-gila-popularitas/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 02 Feb 2010 15:04:27 +0000</pubDate>
		<dc:creator>cipeh</dc:creator>
				<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>
		<category><![CDATA[al hadits]]></category>
		<category><![CDATA[ikhlas]]></category>
		<category><![CDATA[Riya']]></category>
		<category><![CDATA[sombong]]></category>
		<category><![CDATA[Takabbur]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://cipeh.wordpress.com/?p=155</guid>
		<description><![CDATA[“Dari Amirul mu’minin Umar bin Al-Khotthob rodiallahu’anhu, ia berkata, “Aku mendengar Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam bersabda, Sesungguhnya amalan-amalan itu berdasarkan niatnya dan sesungguhnya bagi setiap orang apa yang ia niatkan, maka barangsiapa yang berhijrah kepada Allah dan RasulNya maka hijrahnya adalah kepada Allah dan RasulNya, dan barangsiapa yang hijrahnya karena untuk menggapai dunia atau wanita yang hendak dinikahinya maka hijrahnya kepada apa yang hijrahi”. (HR. Al-Bukhari: 1).

<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=cipeh.wordpress.com&amp;blog=11766244&amp;post=155&amp;subd=cipeh&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<h1>Penyakit Riya’ dan Gila Popularitas (Hadits ke-1 Arba’in An-Nawawi)</h1>
<p> </p>
<p><strong>Judul Asli:</strong> Ikhlas dan Bahaya Riya<br />
<strong>Penulis:</strong> Ustadz Firanda</p>
<p><em>“Dari Amirul mu’minin Umar bin Al-Khotthob rodiallahu’anhu, ia berkata, “Aku mendengar Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam bersabda, Sesungguhnya amalan-amalan itu berdasarkan niatnya dan sesungguhnya bagi setiap orang apa yang ia niatkan, maka barangsiapa yang berhijrah kepada Allah dan RasulNya maka hijrahnya adalah kepada Allah dan RasulNya, dan barangsiapa yang hijrahnya karena untuk menggapai dunia atau wanita yang hendak dinikahinya maka hijrahnya kepada apa yang hijrahi”. (HR. Al-Bukhari: 1).</em></p>
<p>Berkata Abdurrahman bin Mahdi, “Kalau seandainya aku menulis sebuah kitab yang terdiri atas bab-bab maka aku akan menjadikan hadits Umar bin Al-Khattab yaitu hadits Al A’maalu bin Niyyaat di setiap bab” (Jami’ul Ulum 1/8).</p>
<p>Imam Asy-Syafi’i berkata, “Hadits ini adalah sepertiga ilmu” (Jami’ul ‘Ulum 1/9).</p>
<p>Imam Ahmad berkata, “Pokok-pokok Islam ada tiga hadits, hadits Umar rodiallahu’anhu, ”Hanya saja amal-amal itu berdasarkan niatnya”, hadits ‘Aisyah rodiallahu’anha, Barangsiapa yang berbuat perkara-perkara yang baru dalam agama ini yang bukan dari agama maka ia tertolak” dan hadits Nu’man bin Basyir rodiallahu’anhu ”Yang halal jelas dan yang haram jelas”. (Jami’ul ‘Ulum 1/9).</p>
<p><span id="more-155"></span></p>
<p>Imam Ahmad berkata, “Pokok-pokok Islam ada tiga hadits, hadits Umar rodiallahu’anhu, ”Hanya saja amal-amal itu berdasarkan niatnya”, hadits ‘Aisyah rodiallahu’anha, Barangsiapa yang berbuat perkara-perkara yang baru dalam agama ini yang bukan dari agama maka ia tertolak” dan hadits Nu’man bin Basyir rodiallahu’anhu ”Yang halal jelas dan yang haram jelas”. (Jami’ul ‘Ulum 1/9).</p>
<p>Sesungguhnya pembahasan tentang ikhlas adalah pembahasan yang sangat penting yang berkaitan dengan agama Islam yang hanif (lurus) ini, hal dikarenakan tauhid adalah inti dan poros dari agama dan Allah tidaklah menerima kecuali yang murni diserahkan untukNya sebagaimana firman Allah, <em>“Hanyalah bagi Allah agama yang murni”. (QS. Az-Zumar : 3).</em></p>
<p>Maka perkara apa saja yang merupakan perkara agama Allah jika hanya diserahkan kepada Allah maka Allah akan menerimanya, adapun jika diserahkan kepada Allah dan juga diserahkan kepada selain Allah (siapapun juga ia) maka Allah tidak akan menerimanya, karena Allah tidak menerima amalan yang diserikatkan, Dia hanyalah meneriman amalan agama yang kholis (murni) untukNya. Allah akan menolak dan mengembalikan amalan tersebut kepada pelakunya bahkan Allah memerintahkannya untuk mengambil pahala (ganjaran) amalannya tersebut kepada yang dia syarikatkan, hal ini sebagaimana disabdakan oleh Nabi shalallahu ‘alaihi wasallam, yang artinya:</p>
<p><em>Allah berfirman “Aku adalah yang paling tidak butuh kepada syarikat, maka barangsiapa yang beramal suatu amalan untuku lantas ia mensyerikatkan amalannya tersebut (juga) kepada selainku maka Aku berlepas diri darinya dan ia untuk yang dia syarikatkan” (HR. Ibnu Majah 2/1405 no. 4202, dan ia adalah hadits yang shahih, sebagaimana perkataan Syaikh Abdul Malik Ar-Romadhoni, adapun lafal Imam Muslim (4/2289 no 2985) adalah, “aku tinggalkan dia dan ksyirikannya”).</em></p>
<p>Berkata Syaikh Sholeh Alu Syaikh, <em>“Lafal ‘amalan’ disini adalah nakiroh dalam konteks kalimat syart maka memberi faedah keumuman sehingga mencakup seluruh jenis amalan kebaikan baik amalan badan, amalan harta. Maupun amalan yang mengandung amalan badan dan amalan harta (seperti haji dan jihad)”. (At-Tamhid hal. 401).</em></p>
<p><strong>Definisi ikhlas menurut etimologi (menurut peletakan bahasa)</strong><br />
Ikhlas menurut bahasa adalah sesuatu yang murni yang tidak tercampur dengan hal-hal yang bisa mencampurinya. Dikatakan bahwa “madu itu murni” jika sama sekali tidak tercampur dengan campuran dari luar, dan dikatakan “harta ini adalah murni untukmu” maksudnya adalah tidak ada seorangpun yang bersyarikat bersamamu dalam memiliki harta ini. Hal ini sebagaimana firman Allah tentang wanita yang menghadiahkan dirinya untuk Nabi shalallahu ‘alaihi wasallam,</p>
<p><em>Dan perempuan mu’min yang menyerahkan dirinya kepada Nabi kalau Nabi mau mengawininya, sebagai pengkhususan bagimu, bukan untuk semua orang mu’min. (QS. Al Ahzaab: 50).</em></p>
<p><em>Dan sesungguhnya pada binatang ternak itu benar-benar terdapat pelajaran bagi kamu. Kami memberimu minum daripada apa yang berada dalam perutnya (berupa) susu yang bersih antara tahi dan darah, yang mudah ditelan bagi orang-orang yang meminumnya. (QS. An Nahl: 66).</em></p>
<p><em>Maka tatkala mereka berputus asa daripada (putusan) Yusuf mereka menyendiri sambil berunding dengan berbisik-bisik. Berkatalah yang tertua diantara mereka: “Tidakkah kamu ketahui bahwa sesungguhnya ayahmu telah mengambil janji dari kamu dengan nama Allah dan sebelum itu kamu telah menyia-nyiakan Yusuf. Sebab itu aku tidak akan meninggalkan negeri Mesir, sampai ayahku mengizinkan kepadaku (untuk kembali), atau Allah memberi keputusan terhadapku. Dan Dia adalah hakim yang sebaik-baiknya”. (QS. Yusuf: 80).</em> Yaitu para saudara Yusuf menyendiri untuk saling berbicara diantara mereka tanpa ada orang lain yang menyertai pembicaraan mereka.</p>
<p><strong>Definisi ikhlas menurut istilah syar’i (secara terminologi)</strong><br />
Syaikh Abdul Malik menjelaskan, Para ulama bervariasi dalam mendefinisikan ikhlas namun hakikat dari definisi-definisi mereka adalah sama. Diantara mereka ada yang mendefenisikan bahwa ikhlas adalah <em>“menjadikan tujuan hanyalah untuk Allah tatkala beribadah”</em>, yaitu jika engkau sedang beribadah maka hatimu dan wajahmu engkau arahkan kepada Allah bukan kepada manusia. Ada yang mengatakan juga bahwa ikhlas adalah <em>“membersihkan amalan dari komentar manusia”</em>, yaitu jika engkau sedang melakukan suatu amalan tertentu maka engkau membersihkan dirimu dari memperhatikan manusia untuk mengetahui apakah perkataan (komentar) mereka tentang perbuatanmu itu. Cukuplah Allah saja yang memperhatikan amalan kebajikanmu itu bahwasanya engkau ikhlas dalam amalanmu itu untukNya. Dan inilah yang seharusnya yang diperhatikan oleh setiap muslim, hendaknya ia tidak menjadikan perhatiannya kepada perkataan manusia sehingga aktivitasnya tergantung dengan komentar manusia, namun hendaknya ia menjadikan perhatiannya kepada Robb manusia, karena yang jadi patokan adalah keridhoan Allah kepadamu (meskipun manusia tidak meridhoimu).</p>
<p>Ada juga mengatakan bahwa ikhlas adalah <em>“samanya amalan-amalan seorang hamba antara yang nampak dengan yang ada di batin”</em>, adapun riya’ yaitu dzohir (amalan yang nampak) dari seorang hamba lebih baik daripada batinnya dan ikhlas yang benar (dan ini derajat yang lebih tinggi dari ikhlas yang pertama) yaitu batin seseoang lebih baik daripada dzohirnya, yaitu engkau menampakkan sikap baik dihadapan manusia adalah karena kebaikan hatimu, maka sebagaimana engkau menghiasi amalan dzohirmu dihadapan manusia maka hendaknya engkaupun menghiasi hatimu dihadapan Robbmu.</p>
<p>Ada juga yang mengatakan bahwa ikhlas adalah, <em>“melupakan pandangan manusia dengan selalu memandang kepada Allah”</em>, yaitu engkau lupa bahwasanya orang-orang memperhatikanmu karena engkau selalu memandang kepada Allah, yaitu seakan-akan engkau melihat Allah yaitu sebagaimana sabda Nabi shalallahu ‘alaihi wasallam tentang ihsan <em>“Engkau beribadah kepada Allah seakan-akan engkau melihatNya dan jika engkau tidak melihatNya maka sesungguhnya Ia melihatmu”</em>. Barangsiapa yang berhias dihadapan manusia dengan apa yang tidak ia miliki (dzohirnya tidak sesuai dengan batinnya) maka ia jatuh dari pandangan Allah, dan barangsiapa yang jatuh dari pandangan Allah maka apalagi yang bermanfaat baginya? Oleh karena itu hendaknya setiap orang takut jangan sampai ia jatuh dari pandangan Allah karena jika engkau jatuh dari pandangan Allah maka Allah tidak akan perduli denganmu dimanakah engkau akan binasa, jika Allah meninggalkan engkau dan menjadikan engkau bersandar kepada dirimu sendiri atau kepada makhluk maka berarti engkau telah bersandar kepada sesuatu yang lemah, dan terlepas darimu pertolongan Allah, dan tentunya balasan Allah pada hari akhirat lebih keras dan lebih pedih. (Dari ceramah beliau yang berjudul ikhlas. Definisi-definisi ini sebagaimana juga yang disampaikan oleh Ahmad Farid dalam kitabnya “Tazkiyatun Nufus” hal. 13).</p>
<p>Berkata Syaikh Abdul Malik, <em>“Ikhlas itu bukan hanya terbatas pada urusan amalan-amalan ibadah bahkan ia juga berkaitan dengan dakwah kepada Allah. Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam saja (tetap) diperintahkan oleh Allah untuk ikhlas dalam dakwahnya”.</em></p>
<p><em>Katakanlah, “Inilah jalanku (agamaku). Aku dan orang-orang yang mengikutiku mengajak (kamu) kepada Allah dengan hujjah yang nyata. Mahasuci Allah, dan aku tiada termasuk orang-orang yang musyrik.” (QS. Yusuf: 108).</em></p>
<p><em>Yaitu dakwah hanyalah kepada Allah bukan kepada yang lainnya, dan dakwah yang membuahkan keberhasilan adalah dakwah yang dibangun karena untuk mencari wajah Allah. Aku memperingatkan kalian jangan sampai ada diantara kita dan kalian orang-orang yang senang jika dikatakan bahwa kampung mereka adalah kampung sunnah, senang jika masjid-masjid mereka disebut dengan masjid-masjid ahlus sunnah, atau masjid mereka adalah masjid yang pertama yang menghidupkan sunnah ini dan sunnah itu, atau masjid pertama yang menghadirkan para masyayikh salafiyyin dalam rangka mengalahkan selain mereka, namun terkadang mereka tidak sadar bahwa amalan mereka hancur dan rusak padahal mereka menyangka bahwa mereka telah berbuat yang sebaik-baiknya. Dan ini adalah musibah yang sangat menyedihkan yaitu syaitan menggelincirkan seseorang sedikit-demi sedikit hingga terjatuh ke dalam jurang sedang ia menyangka bahwa ia sedang berada pada keadaan yang sebaik-baiknya. Betapa banyak masjid yang aku lihat yang Allah menghancurkan amalannya padahal dulu jemaahnya dzohirnya berada di atas sunnah karena disebabkan rusaknya batin mereka, dan sebab berlomba-lombanya mereka untuk dikatakan bahwa jemaah masjid adalah yang pertama kali berada di atas sunnah, hendaknya kalian berhati-hati…” </em><strong><em>(Dari ceramah beliau yang berjudul ikhlas)</em></strong><em>.</em></p>
<p><strong>Syuhroh (Popularitas)</strong><br />
Ketenaran (popularitas) memang mahal harganya. Betapa banyak orang yang rela mengorbankan banyak harta benda hanya karena untuk memperoleh ketenaran. Sebagaimana yang telah dilakukan oleh para penyanyi, ataupun para bintang film. Mereka selalu berusaha tampil beda agar bisa menarik perhatian umat dunia. Bahkan ada yang rela untuk melakukan hal-hal yang aneh dan yang diharamkan oleh Allah hanya untuk memperoleh popularitas (sebagaimana penulis membaca pengakuan seorang wanita yang rela untuk berfoto setengah telanjang -bukan setengah lagi, tapi 90%, karena hanya tersisa beberapa utas benang atau secarik kain yang menutupi tubuhnya, <strong>“awas jangan dibayangkan!!”</strong>-, padalah dia hanya dibayar sangat rendah. Dia mengaku bahwasanya semua itu agar dia menjadi tenar. Na’udzu billahi min dzalik), yang <em>toh</em> setelah perjuangan dan pengorbanannya tersebut dia belum tentu tersohor. Kalaupun terkenal, toh belum tentu bertahan lama. Namun bagaimanapun popularitas merupakan sesuatu impian yang didambakan oleh banyak manusia (kafir maupun muslim).</p>
<p>Sebagaimana yang kita saksikan sekarang ini. Hampir seluruh keanehan-keanehan yang dilakukan oleh manusia sesungguhnya dikarenakan cinta popularitas. Kita lihat ada orang yang mengecet rambutnya bewarna warni, ada yang kepalanya setengah gundul dan setengahnya rambutnya panjang hingga bahunya dan dicat hijau (sebagaimana yang pernah dilihat oleh Syaikh Abdur Rozaq), ada yang rambutnya cuma ditengah saja panjang adapun sisanya gundul (sebagaimana penulis pernah lihat seorang dari tanah air yang model cukurannya seperti itu padahal dia lagi umroh), ada yang dipotong seperti warna macan tutul (botak gundul, botak gundul), ada yang tengahnya gundul dan kanan kiri kepalanya ada rambutnya, ada yang seluruh kepalanya gundul namun tersisia satu pelintiran yang panjang sekali, dan model-model yang lainnya yang banyak sekali dan aneh-aneh. Ini, padahal baru masalah rambut, belum masalah telinga, hiasan leher, apalagi model pakaian. Yang semua ini hanyalah dilakukan demi ketenaran. <strong>Demi Allah</strong>, seandainya salah mereka itu tinggal di hutan yang tidak ada manusianya sama sekali kecuali dia sendiri, dan dia hanya berteman binatang dan pepohonan, demi Allah dia tidak akan melakukan hal-hal aneh yang telah dia lakukan, karena tidak ada manusia yang memperhatikannya. Kalau dia tetap aneh juga maka dia akan terkenal diantara para hewan. Popularitas merupakan kenikmatan dunia yang mahal harganya.</p>
<p>Penyakit cinta ketenaran ternyata tidak hanya menimpa orang awam saja yang tidak mengetahui perkara-perkara agama, namun juga menjangkiti para ahli ibadah dan para penuntut ilmu syar’i. Walaupun memang bentuknya berbeda, namun hakekatnya sama adalah cinta popularitas. Ahli ibadah juga pingin kesungguhannya dalam beribadah diketahui oleh para ahli ibadah yang lain, ahli ilmu pun ingin orang lain tahu bahwasanya dia adalah seorang yang pandai, sehingga akhirnya martabatnya tinggi dihadapan manusia. Penyakit inilah yang dalam kamus agama disebut penyakit riya’ (pingin dilihat orang) dan sum’ah (pingin didengar orang).</p>
<p>Manusia begitu bersemangat untuk menutupi kejelekan-kejelekan mereka, mereka tutup sebisa mungkin, kejelekan sekecil apapun, dibungkus rapat jangan sampai ketahuan. Hal ini dikarenakan mereka menginginkan mendapatkan kehormatan dimata manusia. Dengan terungkapnya kejelekan yang ada pada mereka maka akan turun kedudukan mereka di mata manusia. Seandainya mereka juga menutupi kebaikan-kebaikan mereka, -sekecil apapun kebaikan itu, jangan sampai ada yang tahu, siapapun orangnya (saudaranya, sahabat karibnya, guru-gurunya, anak-anaknya, bahkan istrinya) tidak ada yang mengetahui kebaikannya- , tentunya mereka akan mencapai martabat mukhlisin (orang-orang yang ikhlas). Mereka berusaha sekuat mungkin agar yang hanya mengetahui kebaikan-kebaikan yang telah mereka lakukan hanyalah Allah. Karena mereka hanya mengharapkan kedudukan di sisi Allah. Berkata Abu Hazim Salamah bin Dinar <em>“Sembunyikanlah kebaikan-kebaikanmu sebagaimana engkau menyembunyikan kejelekan-kejelekanmu.”</em> (Berkata Syaikh Abdul Malik Romadhoni , “Diriwayatkan oleh Al-Fasawi dalam Al-Ma’rifah wa At-Tarikh (1/679), dan Abu Nu’aim dalam Al-Hilyah (3/240), dan Ibnu ‘Asakir dalam tarikh Dimasyq (22/68), dan sanadnya sohih”. Lihat Sittu Duror hal. 45).</p>
<p>Dalam riwayat yang lain yang diriwayatkan oleh Al-Baihaqi dalam Syu’ab Al-Iman no 6500 beliau berkata, <em>“Sembunyikanlah kebaikan-kebaikanmu sebagiamana engkau menyembunyikan keburukan-keburukanmu, dan janganlah engkau kagum dengan amalan-amalanmu, sesungguhnya engkau tidak tahu apakah engkau termasuk orang yang celaka (masuk neraka) atau orang yang bahagia (masuk surga)”.</em></p>
<p>Berkata Syaikh Abdul Malik, <em>“Namun mengapa kita tidak melaksanakan wasiat Abu Hazim ini?? Kenapa??, hal ini menunjukan bahwa keikhlasan belum sampai ke dalam hati kita sebagaimana yang dikehendaki Allah”</em> (Dari ceramah beliau yang berjuduk ikhlas).</p>
<p>Oleh karena itu <strong>banyak para imam salaf yang benci ketenaran</strong>. Mereka senang kalau nama mereka tidak disebut-sebut oleh manusia. Mereka senang kalau tidak ada yang mengenal mereka. Hal ini demi untuk menjaga keihlasan mereka, dan karena mereka kawatir hati mereka terfitnah tatkala mendengar pujian manusia.</p>
<p>Berkata Hammad bin Zaid: “Saya pernah berjalan bersama Ayyub (As-Sikhtyani), maka diapun membawaku ke jalan-jalan cabang (selain jalan umum yang sering dilewati manusia-pen), saya heran kok dia bisa tahu jalan-jalan cabang tersebut ?! (ternyata dia melewati jalan-jalan kecil yang tidak dilewati orang banyak) karena takut manusia (mengenalnya dan) mengatakan, “Ini Ayyub” (Berkata Syaikh Abdul Malik Romadhoni: “Diriwayatkan oleh Ibnu Sa’ad (7/249), dan Al-Fasawi dalam Al-Ma’rifah wa At-Tarikh (2/232), dan sanadnya shahih.” (Sittu Duror hal 46)).</p>
<p>Berkata Imam Ahmad: <em>“Aku ingin tinggal di jalan-jalan di sela-sela gunung-gunung yang ada di Mekah hingga aku tidak dikenal. Aku ditimpa musibah ketenaran”.</em> (As-Siyar 11/210).</p>
<p>Tatkala sampai berita kepada Imam Ahmad bahwasanya manusia mendoakannya dia berkata: “Aku berharap semoga hal ini bukanlah istidroj”. (As-Siyar 11/211).</p>
<p>Imam Ahmad juga pernah berkata tatkala tahu bahwa manusia mendoakan beliau: “Aku mohon kepada Allah agar tidak menjadikan kita termasuk orang-orang yang riya”. (As-Siyar 11/211).</p>
<p>Pernah Imam Ahmad mengatakan kepada salah seorang muridnya (yang bernama Abu Bakar) tatkala sampai kepadanya kabar bahwa manusia memujinya: “Wahai Abu Bakar, jika seseorang mengetahui (aib-aib) dirinya maka tidak bermanfaat baginya pujian manusia”. (As-Siyar 11/211).</p>
<p>Berkata Hammad, “Pernah Ayyub membawaku ke jalan yang lebih jauh, maka akupun perkata padanya, “Jalan yang ini yang lebih dekat”, maka Ayyub menjawab: ”Saya menghindari majelis-majelis manusia (menghindari keramaian manusia-pen)”. Dan Ayyub jika memberi salam kepada manusia, mereka menjawab salamnya lebih dari kalau mereka menjawab salam selain Ayyub. Maka Ayyub berkata: ”Ya Allah sesungguhnya Engkau mengetahui bahwa saya tidaklah menginginkan hal ini !, Ya Allah sesungguhnya Engkau mengetahui bahwa saya tidaklah menginginkan hal ini!.” Berkata Syaikh Abdul Malik: ”Diriwayatkan oleh Ibnu Sa’d (7/248) dan Al-Fasawi (2/239), dan sanadnya shahih”. (Sittu Duror hal 47).</p>
<p>Berkata Abu Zur’ah Yahya bin Abi ‘Amr, “Ad-Dlohhak bin Qois keluar bersama manusia untuk sholat istisqo (sholat untuk minta hujan), namun hujan tak kunjung datang, dan mereka tidak melihat adanya awan. Maka beliau berkata: ”Dimana Yazid bin Al-Aswad?” (Dalam riwayat yang lain: Maka tidak seorangpun yang menjawabnya, kemudian dia berkata: ”Dimana Yazid bin Al-Aswad?, Aku tegaskan padanya jika dia mendengar perkataanku ini hendaknya dia berdiri”), maka berkata Yazid :”Saya di sini!”, berkata Ad-Dlohhak: ”Berdirilah!, mintalah kepada Allah agar menurunkan hujan bagi kami!”. Maka Yazid pun berdiri dan menundukan kepalanya diantara dua bahunya, dan menyingsingkan lengan banjunya lalu berdoa: ”Ya Allah, sesungguhnya para hambaMu memintaku untuk berdoa kepadaMu”. Lalu tidaklah dia berdoa kecuali tiga kali kecuali langsung turunlah hujan yang deras sekali, hingga hampir saja mereka tenggelam karenanya. Kemudian dia berkata: ”Ya Allah, sesungguhnya hal ini telah membuatku menjadi tersohor, maka istirahatkanlah aku dari ketenaran ini”, dan tidak berselang lama yaitu seminggu kemudian diapun meninggal.” Lihat takhrij kisah ini secara terperinci dalam buku Sittu Duror karya Syaikh Abdul Malik Romadloni hal. 47.</p>
<p>Lihatlah wahai saudaraku, bagaimana Yazid Al-Aswad merasa tidak tentram dengan ketenarannya bahkan dia meminta kepada Allah agar mencabut nyawanya agar terhindar dari ketenarannya. Ketenaran di mata Yazid adalah sebuah penyakit yang berbahaya, yang dia harus menghindarinya walaupun dengan meninggalkan dunia ini. <strong>Allahu Akbar.. !</strong> inilah akhlak salaf (Berkata Guru kami Syaikh Abdul Qoyyum, “Adapun orang-orang yang memerintahkan para pengikutnya atau rela para pengikutnya mencium tangannya lalu ia berkata bahwa ia adalah wali Allah maka ia adalah dajjal”). Namun banyak orang yang terbalik, mereka malah menjadikan ketenaran merupakan kenikmatan yang sungguh nikmat sehingga mereka berusaha untuk meraihnya dengan berbagai macm cara.</p>
<p>Dari Abu Hamzah Ats-Tsumali, beliau berkata: ”Ali bin Husain memikul sekarung roti diatas pundaknya pada malam hari untuk dia sedekahkan, dan dia berkata, ”Sesungguhnya sedekah dengan tersembunyi memadamkan kemarahan Allah”. Ini merupakan hadits yang marfu’ dari Nabi, yang diriwayatkan dari banyak sahabat, seperti Abdullah bin Ja’far, Abu Sa’id Al-Khudri, Ibnu “Abbas, Ibnu Ma’ud, Ummu Salamah, Abu Umamah, Mu’awiyah bin Haidah, dan Anas bin Malik. Berkata Syaikh Al-Albani: ”Kesimpulannya hadits ini dengan jalannya yang banyak serta syawahidnya adalah hadits yang shahih, tidak diragukan lagi. Bahkan termasuk hadits mutawatir menurut sebagian ahli hadits muta’akhirin” (As-Shohihah 4/539, hadits no. 1908).</p>
<p>Dan dari ‘Amr bin Tsabit berkata, ”Tatkala Ali bin Husain meninggal mereka memandikan mayatnya lalu mereka melihat bekas hitam pada pundaknya, lalu mereka bertanya: ”Apa ini”, lalu dijawab: ”Beliau selalu memikul berkarung-karung tepung pada malam hari untuk diberikan kepada faqir miskin yang ada di Madinah”.</p>
<p>Berkata Ibnu ‘Aisyah: ”Ayahku berkata kepadaku: ”Saya mendengar penduduk Madinah berkata: ”Kami tidak pernah kehilangan sedekah yang tersembunyi hingga meninggalnya Ali bin Husain” Lihat ketiga atsar tersebut dalam Sifatus Sofwah (2/96), Aina Nahnu hal. 9.</p>
<p>Lihatlah bagaimana Ali bin Husain menyembunyikan amalannya hingga penduduk Madinah tidak ada yang tahu, mereka baru tahu tatkala beliau meninggal karena sedekah yang biasanya mereka terima di malam hari berhenti, dan mereka juga menemukan tanda hitam di pundak beliau.</p>
<p>Seseorang bertanya pada Tamim Ad-Dari <em>”Bagaimana sholat malam engkau”</em>, maka marahlah Tamim, sangat marah, kemudian berkata, <em>“Demi Allah, satu rakaat saja sholatku ditengah malam, tanpa diketahui (orang lain), lebih aku sukai daripada aku sholat semalam penuh kemudian aku ceritakan pada manusia”</em> (Dinukil dari kitab Az- Zuhud, Imam Ahmad).</p>
<p>Tidak seorangpun diantara kita yang meragukan akan kesungguhan para sahabat dalam beribadah. Namun walaupun demikian, mereka tidaklah ujub, atau memamerkan amalan mereka kapada manusia, jauh sekali dengan kita. Adapun sebagian kita (atau sebagian besar, atau seluruhnya (kecuali yang dirahmati oleh Allah), <strong>Allahu Al-Musta’an</strong>, sudah amalannya sedikit, namun diceritakan kemana-mana (Bahkan kalau bisa orang sedunia mengetahuinya). Ada yang berkata, <em>”Dakwah saya disana…, disini…”</em>, ada juga yang berkata,”Yang menghadiri majelis saya jumlahnya sekian dan sekian…” (padahal kalau dihitung belum tentu sebanyak yang disebutkan, atau memang benar yang hadir majelisnya banyak tetapi tidak selalu. Terkadang yang hadir dalam sebagian majelisnya cuma sedikit, namun tidak dia ceritakan, atau yang hadir banyak tapi pada ngantuk semua, juga tidak dia ceritakan. Pokoknya dia ingin gambarkan pada manusia bahwa dia adalah <strong>da’i favorit</strong>), ada yang berkata, “Saya sudah baca kitab ini, kitab itu.. hal ini sebagaimana termuat dalam kitab ini atau kitab itu…”(padahal belum tentu satu kitabpun dia baca dari awal hingga akhir, atau bahkan belum tentu dia baca sama sekali secara langsung kitab itu. Namun dia ingin gambarkan pada manusia bahwa mutola’ahnya banyak, agar mereka tahu bahwa dia adalah orang yang berilmu dan gemar membaca). Yang mendorong ini semua adalah karena keinginan mendapat penghargaan dan penghormatan dari manusia.</p>
<p>Lihatlah Tamim Ad-Dari tidak membuka pintu yang bisa mengantarkannya terjatuh dalam riya, sehingga dia tidak mau menjawab orang yang bertanya tentang ibadahnya. Namun sebaliknya, sebagian kaum muslimin sekarang justru menjadikan kesempatan pertanyaan seperti itu untuk bisa menceritakan seluruh ibadahnya, bahkan menanti-nanti untuk ditanya tentang ibadahnya, atau dakwahnya, atau perkara yang lainnya.</p>
<p>Ayyub As-Sikhtiyani sholat sepanjang malam, dan jika menjelang fajar maka dia kembali untuk berbaring di tempat tidurnya. Dan jika telah terbit fajar maka diapun mengangkat suaranya seakan-akan dia baru saja bangun pada saat itu. (Diriwayatkan oleh Abu Nu’aim dalam Al-Hilyah 3/8).</p>
<p>Berkata Muhammad bin A’yun, ”Aku bersama Abdullah bin Mubarok dalam peperangan di negeri Rum. Tatkala kami selesai sholat isya’ Ibnul Mubarok pun merebahkan kepalanya untuk menampakkan padaku bahwa dia sudah tertidur. Maka akupun –bersama tombakku yang ada ditanganku- menggenggam tombakku dan meletakkan kepalaku diatas tombak tersebut, seakan-akan aku juga sudah tertidur. Maka Ibnul Mubarok menyangka bahwa aku sudah tertidur, maka diapun bangun diam-diam agar tidak ada sorangpun dari pasukan yang mendengarnya lalu sholat malam hingga terbit fajar. Dan tatkala telah terbit fajar maka diapun datang untuk membagunkan aku karena dia menyangka aku tidur, seraya berkata “Ya Muhammad bangunlah!”, Akupun berkata: ”Sesungguhnya aku tidak tidur”. Tatkala Ibnul Mubarok mendengar hal ini dan mengetahui bahwa aku telah melihat sholat malamnya maka semenjak itu aku tidak pernah melihatnya lagi berbicara denganku. Dan tidak pernah juga ramah padaku pada setiap peperangannya. Seakan-akan dia tidak suka tatkala mengetahui bahwa aku mengetahui sholat malamnya itu, dan hal itu selalu nampak di wajahnya hingga beliau wafat. Aku tidak pernah melihat orang yang lebih menymbunyikan kebaikan-kebaikannya daripada Ibnul Mubarok” (Al-Jarh wa At-Ta’dil, Ibnu Abi Hatim 1/266).</p>
<p>Wahai saudaraku, ketahuilah… sesungguhnya ikhlas adalah sesuatu yang sangat berat, penuh perjuangan untuk bisa meraihnya. Pintu-pintu yang bisa dimasuki syaitan untuk bisa merusak keikhlasan kita terlalu banyak. Tatkala kita sedang beramal maka syaitanpun berusaha untuk bisa menjadikan kita riya’, kalau tidak bisa menjadikan kita riya’ di permulaan amal, maka dia akan berusaha agar kita riya’ di pertengahan amal. Kalau tidak mampu lagi maka di akhir amalan kita. Oleh karena itu kita dapati para salaf dahulu memngecek niat mereka ditengah amalan mereka, apakah masih tetap ikhlas atau sudah berubah?. Diriwayatkan dari Sualaiman bin Dawud Al-Hasyimi: ”Terkadang saya menyampaikan sebuah hadits dan niat saya ikhlas, (namun) tatkala saya sampaikan sebagian hadits tersebut berubahlah niat saya, ternyata satu hadits saja membutuhkan banyak niat” Disebutkan oleh Al-Khotib Al-Bagdadi dalam Tarikh beliau (9/31), Al-Mizzi dalam Tahdzibul Kamal (11/412), dan Ad-Dazahabi dalam Siyar (10/625), lihat Jami’ul ‘Ulum wal Hikam hal 83, tahqiq Al-Arnauth).</p>
<p>Lihatlah bagaimana hati-hatinya salaf dalam menjaga niat mereka, untuk bisa menyampaikan satu hadits saja (yang mungkin hanya beberapa buah kata) dia memperhatikan niatnya berulang-ulang. Bagaimana dengan kita sekarang? Bukan cuma berpuluh-puluh kata yang kita lontarkan, bahkan beribu-ribu kata (tatkala mengisi pengajian, atau memberi pendapat atau nasehat tatkala diminta, atau yang lainnya…) pernahkah kita mengecek niat kita disela-sela pembicaraan kita??. Terkadang seseorang di awal sedang mengisi pengajian, dia mendapati niatnya ikhlas. Namun tatkala di tengah pengajian, disaat dia memandang bagaimana para pendengarnya terkagum-kagum dengan kefasihannya melontarkan dalil disaat itulah syaitan berperan aktif untuk merubah niatnya. Waspadalah wahai para saudaraku… <strong>sesungguhnya hanya sedikit yang selamat dari tipu daya syaitan</strong>.</p>
<p>Sungguh benarlah perkataan Sufyan Ats-Tsauri, ”Saya tidak pernah menghadapi sesuatu yang lebih berat daripada niat, karena niat itu berbolak-balik (berubah-ubah)” (Hilyatul Auliya (7/ hal 5 dan 62), lihat Jami’ul ‘Ulul wal Hikam hal 70, tahqiq Al-Arnauth).</p>
<p>Kalau seseorang telah selamat dari tipu daya syaitan hingga selesai amalnya, ingatlah…syaitan tidak putus asa. Dia mulai menggelitik hati orang tersebut dan merayu orang tersebut untuk menceritakan amalan solehnya pada manusia, dan syaitan menipunya dengan berkata, ”Ini bukanlah riya…, supaya kamu bisa dicontohi manusia…”. Akhirnya terjebaklah orang tersebut dan diapun mengungkapkan kebaikan-kebaikannya dihadapan orang, maka bisa jadi diapun menceritakan kabaikan-kebaikannya pada manusia karena riya’, maka ini merupakan kecelakaan baginya, atau kalau tidak maka minimal pahalanya berkurang. Karena pahala amalan yang <em>sirr </em>(disembunyikan) lebih baik daripada amalan yang diketahui orang lain.</p>
<p>Allah berfirman, yang artinya:<br />
<em>“Jika kalian menampakkan sedekah kalian maka itu adalah baik sekali. Dan jika kalian menyembunyikannya dan kalian berikan kepada orang-orang fakir maka menyembunyikanya itu lebih baik bagi kalian. Dan Allah akan menghapuskan dari kalian sebagian kesalahan-kesalahan kalian, dan Allah maha mengetahui apa yang kalian kerjakan” (QS. Al-Baqoroh: 271).</em></p>
<p>Berkata Ibnu Kasir dalam Tafsirnya, ”Asalnya isror (amalan secara tersembunyi tanpa diketahui orang lain) adalah lebih afdol dengan dalil ayat ini dan hadits dalam shohihain (Bukhori dan Muslim) dari Abu Huroiroh, beliau berkata: “Berkata Rasulullah : <em>”Tujuh golongan yang berada dibawah naungan Allah pada hari dimana tidak ada naungan kecuali naungan Allah, Imam yang adil, dan seorang yang bersedekah lalu dia menyembunyikannya hingga tangan kirinya tidak mengetahui apa yang diinfakkan oleh tangan kanannya”</em> Diriwayatkan oleh Al-Bukhori (1423) dan Muslim (2377). Berkata Imam Nawawi: ”Berkata para Ulama bahwanya penyebutan tangan kanan dan kiri menunjukan kesungguhan dan sangat dismbunyikannya serta tidak diketuhinya sedekah. Perumpamaan dengan kedua tangan tersebut karena dekatnya tangan kanan dengan tangan kiri, dan tangan kanan selalu menyertai tangan kiri. Dan maknanya adalah seandainya tangan kiri itu seorang laki-laki yang terjaga maka dia tidak akan mengetahui apa yang diinfak oleh tangan kanan karena saking disembunyikannya.” (Al-Minhaj 7/122), hal ini juga sebagaimana penjelasan Ibnu Hajr (Al-Fath 2/191).</p>
<p>Rosulullah bersabda: <em>”Tatkala Allah menciptakan bumi, bumi tersebut bergoyang-goyang, maka Allah pun menciptakan gunung-gunung kalau Allah lemparkan gunung-gunung tersebut di atas bumi maka tenanglah bumi. Maka para malaikatpun terkagum-kagum dengan penciptaan gunung, mereka berkata, ”Wahai Tuhan kami, apakah ada dari makhluk Mu yang lebih kuat dari gunung?” Allah berkata, “Ada yaitu besi”. Lalu mereka bertanya (lagi), ”Wahai Tuhan kami, apakah ada dari makhlukMu yang lebih kuat dari besi?”, Allah menjawab, ”Ada yaitu api.”, mereka bertanya (lagi), ”Wahai Tuhan kami, apakah ada makhluk Mu yang lebih kuat dari pada api?”, Allah menjawab, ”Ada yaitu air”, mereka bertanya (lagi), ”Wahai Tuhan kami, apakah ada makhlukMu yang lebih kuat dari pada air?”, Allah menjawab, ”Ada yaitu air” mereka bertanya (lagi), ”Wahai Tuhan kami, apakah ada makhlukMu yang lebih kuat dari pada air?”, Allah menjawab, ”Ada yaitu angin” mereka bertanya (lagi), ”Wahai Tuhan kami, apakah ada makhlukMu yang lebih kuat dari pada angin?”, Allah menjawab, ”Ada yaitu seorang anak Adam yang bersedekah dengan tangan kanannya lalu dia sembunyikan agar tidak diketahui tangan kanannya”. Diriwayatkan oleh Imam Ahamad dalam Musnadnya 3/124 dari hadits Anas bin Malik. Berkata Ibnu Hajar, ”Dari hadits Anas dengan sanad yang hasan marfu’” (Al-Fath 2/191).</em></p>
<p>Sungguh benar orang yang berkata, “Jangan heran kalau engkau melihat seorang yang bisa jalan di atas air, karena syaitan juga bisa berjalan di atas air. Janganlah heran kalau engkau melihat seorang yang berjalan terbang diudara, karena syaitan juga bisa terbang di udara. Tapi heranlah engkau jika engkau melihat seorang yang bersedekah dengan tangan kanannya namun tangan kirinya tidak mengetahuinya, karena syaitan tidak bersedekah (apalagi dengan ikhlas) (Untaian kalimat ini, penulis tidak mengetahui siapa yang mengucapkannya. Namun penulis pernah mendengarnya dari seorang petugas penjaga mushola dikapal laut, tatkala menyampaikan nasehat pada awak penumpang kapal. Mungkin saja dialah yang mengucapkan perkataan ini pertama kali. Namun bagaimanapun perkataan ini benar maknanya jika ditinjau dari kacamata syar’i, Wallahu A’lam).</p>
<p>Ingat perkataan Ibnul Qoyyim, “Tidaklah akan berkumpul keikhlasan dalam hati bersama rasa senang untuk dipuji dan disanjung dan keinginan untuk memperoleh apa yang ada pada manusia kecuali sebagaimana terkumpulnya air dan api…” (Fawaid Al-Fawaid, Ibnul Qoyyim, tahqiq Syaikh Ali Hasan, hal 423). <strong>Wahai Dzat yang membolak-balikan hati-hati (manusia) tetapkanlah hatiku di atas agamaMu.</strong></p>
<p><strong>Hukum menyembunyikan amal</strong><br />
Para ulama menjelaskan bahwa keutamaan menyembunyikan amalan kebajikan (karena hal ini lebih menjauhkan dari riya) itu hanya khusus bagi amalan-amalan mustahab bukan amalan-amalan yang wajib. Berkata Ibnu Hajar: ”At-Thobari dan yang lainnya telah menukil ijma’ bahwa sedekah yang wajib secara terang-terangan lebih afdhol daripada secara tersembunyi. Adapun sedekah yang mustahab maka sebaliknya.” (Al-Fath 3/365). Sebagian mereka juga mengecualikan orang-orang yang merupakan teladan bagi masyarakat, maka justru lebih afdhol bagi mereka untuk beramal terang-terangan agar bisa diikuti dengan syarat mereka aman dari riya’, dan hal ini tidaklah mungkin kecuali jika iman dan keyakinan mereka yang kuat.</p>
<p>Imam Al-Iz bin Abdus Salam telah menjelaskan hukum menyembunyikan amalan kebajikan secara terperinci sebagai berikut. Beliau berkata, “Keta’atan (pada Allah) ada tiga:</p>
<ol>
<li>Yang pertama, adalah amalan yang disyariatkan secara dengan dinampakan seperti adzan, iqomat, bertakbir, membaca Quran dalam sholat secara jahr, khutbah-kutbah, amar ma’ruf nahi mungkar, mendirikan sholat jumat dan sholat secara berjamaah, merayakan hari-hari ‘ied, jihad, mengunjungi orang-orang yang sakit, mengantar jenazah, maka hal-hal seperti ini tidak mungkin disembunyikan. Jika pelaku amalan-amalan tersebut takut riya, maka hendaknya dia berusaha bersungguh-sungguh untuk menolaknya hingga dia bisa ikhlas kemudian dia bisa melaksanakannya dengan ikhlas, sehingga dengan demikian dia akan mendapatkan pahala amalannya dan juga pahala karena kesungguhannya menolak riya, karena amalan-amalan ini maslahatnya juga untuk orang lain.</li>
<li>Yang kedua, amalan yang jika diamalkan secara tersembunyi lebih afdhol dari pada jika dinampakkan. Contohnya seperti membaca qiro’ah secara perlahan tatkala sholat (yaitu sholat yang tidak disyari’atkan untuk menjahrkan qiro’ah), dan berdzikir dalam sholat secara perlahan. Maka dengan perlahan lebih baik daripada jika dijahrkan.</li>
<li>Yang ketiga, amalan yang terkadang disembunyikan dan terkadang dinampakkan seperti sedekah. Jika dia kawatir tertimpa riya’ atau dia tahu bahwasanya biasanya kalau dia nampakan amalannya dia akan riya’, maka amalan (sedekah) tersebut disembunyikan lebih baik daripada jika dinampakkan.</li>
</ol>
<p>Adapun orang yang aman dari riya’ maka ada dua keadaannya:</p>
<ol>
<li>Yang pertama, dia bukanlah termasuk orang yang diikuti, maka lebih baik dia menyembunyikan sedekahnya, karena bisa jadi dia tertimpa riya’ tatkala menampakkan sedekahnya.</li>
<li>Yang kedua, dia merupakan orang yang dicontohi, maka dia menampakan sedekahnya lebih baik karena hal itu membantu fakir miskin dan dia akan diikuti. Maka dia telah memberi manfaat kepada fakir miskin dengan sedekahnya dan dia juga menyebabkan orang-orang kaya bersedekah pada fakir miskin karena mencontohi dia, dan dia juga telah memberi manfaat pada orang-orang kaya tersebut karena mengikuti dia beramal soleh.” Qowa’idul Ahkam 1/125 (Sebagaimana dinukil oleh Sulaiman Al-Asyqor dal kitabnya Al-Ikhlash hal 128-129).</li>
</ol>
<p>Tentunya kita lebih mengetahui diri kita, kita termasuk orang yang aman dari riya atau tidak.</p>
<p><strong>Mengobati penyakit cinta ketenaran</strong><br />
Berkata Abdullah bin Mas’ud, “Seandainya kalian mengetahui dosa-dosaku maka tidak ada dua orangpun yang berjalan di belakangku, dan kalian pasti akan melemparkan tanah di kepalaku, aku sungguh berangan-angan agar Allah mengampuni satu dosa dari dosa-dosaku dan aku dipanggil dengan Abdullah bin Rowtsah”. (Al-Mustadrok 3/357 no. 5382).</p>
<p>Berkata Syaikh Sholeh Alu Syaikh, ((“Untaian kalimat ini adalah madrasah (pelajaran), dan hal ini tidak diragukan lagi karena tersohornya seseorang mungkin terjadi jika orang tersebut memiliki kelebihan diantara manusia, bahkan bisa jadi orang-orang mengagungkannya, bisa jadi orang-orang memujinya, bisa jadi mereka mengikutinya berjalan di belakangnya. Seseorang jika semakin bertambah ma’rifatnya kepada Allah maka ia akan sadar dan mengetahui bahwa dosa-dosanya banyak, dan banyak, dan sangat banyak. Oleh karena tidaklah suatu hal yang mengherankan jika Nabi shalallahu ‘alaihi wasallam mewasiatkan kepada Abu Bakar –padahal ia adalah orang yang terbaik dari umat ini dari para sahabat Nabi shalallahu ‘alaihi wasallam &#8211; yang selalu membenarkan (apa yang dikabarkan oleh Nabi shalallahu ‘alaihi wasallam-pen), yang Nabi shalallahu ‘alaihi wasallam telah berkata tentangnya, “Jika ditimbang iman Abu Bakar dibanding dengan iman umat maka akan lebih berat iman Abu Bakar”, namun Nabi shalallahu ‘alaihi wasallam mewasiatkannya untuk berdo’a di akhir sholatnya, “Robku, sesungguhnya aku telah banyak mendzolimi diriku dan tidak ada yang mengampuni dosa-dosa kecuali engkau maka ampunilah aku dengan pengampunanMu”. Yang mewasiatkan adalah Nabi shalallahu ‘alaihi wasallam dan yang diwasiatkan adalah Abu Bakar As-Shiddiq. Semakin bertambah ma’rifat seorang hamba kepada Robnya maka ia akan takut kepada Allah, takut kalau ada yang mengikutinya dari belakang, khawatir ia diagungkan diantara manusia, khawatir diangkat-angkat diantara manusia, karena ia mengetahui hak-hak Allah sehingga dia mengetahui bahwa ia tidak akan mungkin menunaikan hak Allah, ia selalu kurang dalam bersyukur kepada Allah, dan ini merupakan salah satu bentuk dosa.</p>
<p>Diantara manusia ada yang merupakan qori’ Al-Qur’an dan tersohor karena keindahan suaranya, keindahan bacaannya, maka orang-orangpun berkumpul di sekitarnya. Diantara manusia ada yang alim, tersohor dengan ilmunya, dengan fatwa-fatwanya, dengan kesholehannya, kewaro’annya, maka orang-orangpun berkumpul di sekelilingnya.</p>
<p>Diantara mereka ada yang menjadi da’i yang terkenal dengan pengorbanannya dan perjuangannya dalam berdakwah maka orang-orang pun berkumpul di sekelilingnya karena Allah telah memberi petunjuk kepada mereka dengan perantaranya. Demikian juga ada yang terkenal dengan sikapnya yang selalu menunaikan amanah, ada yang tersohor dengan sikapnya yang menegakkan amar ma’ruf nahi mungkar, dan demikianlah… Posisi terkenalnya seseorang merupakan posisi yang sangat mudah menggelincirkan seseorang, oleh karena itu Ibnu Mas’ud mewasiatkan kepada dirinya sendiri dengan menjelaskan keadaan dirinya (yang penuh dengan dosa), dan menjelaskan apa yang wajib bagi setiap orang yang memiliki pengikut…</p>
<p>Hendaknya setiap orang yang tersohor (dengan kebaikan) atau termasuk orang yang terpandang untuk selalu merendahkan dirinya diantara manusia dan menampakkan hal itu, bukan malah untuk semakin naik derajatnya di hadapan manusia namun agar semakin terangkat derajatnya di hadapan Allah, dan ini semua kembali kepada keikhlasan, karena diantara manusia ada yang merendahkan dirinya di hadapan manusia namun agar tersohor dan ini adalah termasuk (tipuan) syaitan. Dan diantara manusia ada yang merendahkan dirinya di hadapan manusia dan Allah mengetahui hatinya bahwasanya ia benar dengan sikapnya itu, ia takut pertemuan dengan Allah, ia takut hari di mana dibalas apa-apa yang terdapat dalam dada-dada, hari di mana nampak apa yang ada disimpan di hati-hati, tidak ada yang tersembunyi di hadapan Allah dan mereka tidak bisa menyembunyikan pembicaraan mereka di hadapan Allah.</p>
<p>Ini adalah pelajaran yang berharga bagi setiap yang dipanuti dan yang mengikuti. Adapun pengikut maka hendaknya ia tahu bahwa orang yang diikutinya itu tidak boleh diagungkan, namun hanyalah diambil faedah darinya berupa syari’at Allah atau faedah yang diambil oleh masyarakat, karena yang diagungkan hanyalah Allah kemudian Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam. Adapun manusia yang lain maka jika mereka baik maka bagi mereka rasa cinta pada diri kita. Dan hendaknya orang yang tersohor untuk selalu takut, rendah, dan mengingat dosa-dosanya, mengingat bahwa ia akan berdiri di hadapan Allah, ingat bahwasanya ia bukanlah orang yang berhak diikuti oleh dua orang di belakangnya.</p>
<p>Oleh karena itu tatkala Abu Bakar dipuji di hadapan manusia maka ia berkutbah setelah itu dan riwayat ini shahih sebagaimana diriwayatkan oleh imam Ahmad dan yang lainnya ia berkata: <em>“Ya Allah jadikanlah aku lebih baik dari apa yang mereka persangkakan dan ampunkanlah apa-apa yang mereka tidak ketahui”</em>, ia mengucapkan doa ini dengan keras untuk mengingatkan manusia bahwasanya ia memiliki dosa sehingga mereka tidak berlebih-lebihan kepadanya. Apakah hal ini sebagaimana yang kita lihat pada kenyataan dimana orang yang diagungkan semakin menjadi-jadi agar diagungkan dirinya??, orang yang mengagungkan juga semakin mengagungkan orang yang diikutinya?? Ini bukanlah jalan para sahabat radhiallahu ‘anhum, Umar terkadang ujub dengan dirinya -dan dia adalah seorang khalifah, orang kedua yang dikabarkan dengan masuk surga setelah Abu Bakar-, maka ia pun memikul suatu barang di tengah pasar untuk merendahkan dirinya hingga ia tidak merasa dirinya besar.</p>
<p>Diantara kesalahan-kesalahan adalah sifat ujub (takjub dengan diri sendiri), yaitu seseorang memandang dirinya waw (hebat). Ada diantara salafus shalih yang jika hendak menyampaikan suatu (mau’idzoh) dan jika ia melihat orang-orang berkumpul maka iapun meninggalkan majelis tersebut, kenapa?, karena keselamatan jiwanya lebih utama dibandingkan keselamatan jiwa orang lain, karena ia melihat ramainya orang yang telah berkumpul dan ia menyadari bahwa dirinya mulai merasakan bahwa dirinya senang karena kehadiran mereka, yang pada diam memperhatikannya, dan memperhatikannya, maka iapun mengobati dirinya dengan meninggalkan mereka maka merekapun membicarakannya akibat hal tersebut, Namun yang paling penting adalah keselamatan jiwa dan hatinya dihadapan Allah. Dan keselamatan hatinya lebih utama dibandingkan keselamatan hati orang lain…”)). (Dari ceramah Syaikh Sholeh Alu Syaikh yang berjudul Waqofaat ma’a kalimaat li Ibni Mas’ud).</p>
<p><strong>Riya itu samar</strong><br />
Sungguh benar sabda Nabi shalallahu ‘alaihi wasallam bahwasanya riya itu samar sehingga terkadang menimpa seseorang padahal ia menyangka bahwa ia telah melakukan yang sebaik-baiknya. Dikisahkan bahwasanya ada seseorang yang selalu sholat berjama’ah di shaf yang pertama, namun pada suatu hari ia terlambat sehingga sholat di saf yang kedua, ia pun merasa malu kepada jama’ah yang lain yang melihatnya sholat di shaf yang kedua. Maka tatkala itu ia sadar bahwasanya selama ini senangnya hatinya, tenangnya hatinya tatkala sholat di shaf yang pertama adalah karena pandangan manusia. (Tazkiyatun Nufus hal 15).</p>
<p>Berkata Abu ‘Abdillah Al-Anthoki, “Fudhail bin ‘Iyadh bertemu dengan Sufyan Ats-Tsauri lalu mereka berdua saling mengingat (Allah) maka luluhlah hati Sufyan atau ia menangis. Kemudian Sufyan berkata kepada Fudhail, “Wahai Abu ‘Ali sesungguhnya aku sangat berharap majelis (pertemuan) kita ini rahmat dan berkah bagi kita”, lalu Fudhail berkata kepadanya, “Namun aku, wahai Abu Abdillah, takut jangan sampai majelis kita ini adalah suatu mejelis yang mencelakakan kita “, Sufyan berkata, “Kenapa wahai Abu Ali?”, Fudhail berkata, “Bukankah engkau telah memilih perkataanmu yang terbaik lalu engkau menyampaikannya kepadaku, dan akupun telah memilih perkataanku yang terbaik lalu aku sampaikan kepadamu, berarti engkau telah berhias untuk aku dan aku pun telah berhias untukmu”, lalu Sufyan pun menangis dengan lebih keras daripada tangisannya yang pertama dan berkata, “Engkau telah menghidupkan aku semoga Allah menghidupkanmu”. (Tarikh Ad-Dimasyq 48/404).</p>
<p>Perhatikanlah wahai saudaraku… sesungguhnya hanyalah orang-orang yang beruntung yang memperhatikan gerak-gerik hatinya, yang selalu memperhatikan niatnya. Terlalu banyak orang yang lalai dari hal ini kecuali yang diberi taufik oleh Allah. Orang-orang yang lalai akan memandang kebaikan-kebaikan mereka pada hari kiamat menjadi kejelekan-kejelekan, dan mereka itulah yang dimaksudkan oleh Allah dalam firman-Nya.</p>
<p><em>“Dan (jelaslah) bagi mereka akibat buruk dari apa yang telah mereka perbuat dan mereka diliputi oleh pembalasan yang mereka dahulu selalu memperolok-olokkannya.” (QS. Az Zumar: 48).</em></p>
<p><em>“Yaitu orang-orang yang telah sia-sia perbuatannya dalam kehidupan dunia ini, sedang mereka menyangka bahwa mereka berbuat sebaik-baiknya.” (QS. Al Kahfy: 104). </em></p>
<p><strong>Maroji’:</strong></p>
<ol>
<li>Fathul Bari, Ibnu Hajar Al-‘Asqolani, dar As-Salam, Riyadh, cetakan pertama Tahun 2000 masehi</li>
<li>Al-Minhaj syarh Sohih Muslim, Imam Nawawi, Dar Al-Ma’rifah</li>
<li>Jami Al-‘Ulum wa Al-Hikam, Ibnu Rojab, tahqiq Al-Arnauth</li>
<li>Sittu Duror min Ushuli Ahlil Atsar, Syaikh Abdul Malik Romadhoni, maktabah Al-Asholah</li>
<li>Tafsir Ibnu Katsir, tahqiq Al-Banna, dar Ibnu Hazm, cetakan pertama</li>
<li>Fawaid Al-Fawaid, Ibnul Qoyyim, tahqiq Syaikh Ali Hasan, Dar Ibnul Jauzi</li>
<li>Al-Ikhlash, Sulaiman Al-Asyqor, dar An-Nafais</li>
<li>Silsilah Al-Ahadits As-Sohihah, Syaikh Al-Albani</li>
<li>Aina Nahnu min Akhlak As-Salaf, Abdul Aziz bin Nasir Al-Jalil, Dar Toibah</li>
<li>Waqofaat ma’a kalimaat li Ibni Mas’ud, transkrip dari ceramah Syaikh Sholeh Alu Syaikh</li>
<li>Tazkiyatun Nufus, Ahmad Farid</li>
</ol>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/cipeh.wordpress.com/155/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/cipeh.wordpress.com/155/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/cipeh.wordpress.com/155/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/cipeh.wordpress.com/155/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/cipeh.wordpress.com/155/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/cipeh.wordpress.com/155/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/cipeh.wordpress.com/155/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/cipeh.wordpress.com/155/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/cipeh.wordpress.com/155/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/cipeh.wordpress.com/155/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/cipeh.wordpress.com/155/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/cipeh.wordpress.com/155/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/cipeh.wordpress.com/155/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/cipeh.wordpress.com/155/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=cipeh.wordpress.com&amp;blog=11766244&amp;post=155&amp;subd=cipeh&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://cipeh.wordpress.com/2010/02/02/penyakit-riya%e2%80%99-dan-gila-popularitas/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/264b6e5aa49527d70114602e92b7a1e2?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">cipeh</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Hukum orang-orang yang terlibat dalam pemilihan umum dan yang memberikan suara</title>
		<link>http://cipeh.wordpress.com/2010/02/01/hukum-orang-orang-yang-terlibat-dalam-pemilihan-umum-dan-yang-memberikan-suara/</link>
		<comments>http://cipeh.wordpress.com/2010/02/01/hukum-orang-orang-yang-terlibat-dalam-pemilihan-umum-dan-yang-memberikan-suara/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 01 Feb 2010 18:54:06 +0000</pubDate>
		<dc:creator>cipeh</dc:creator>
				<category><![CDATA[Al Islam]]></category>
		<category><![CDATA[Demokrasi]]></category>
		<category><![CDATA[Hukum]]></category>
		<category><![CDATA[indonesia]]></category>
		<category><![CDATA[islam]]></category>
		<category><![CDATA[Pemilu]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://cipeh.wordpress.com/?p=111</guid>
		<description><![CDATA[DON’T VOTE STAY MUSLIM Apa hukumnya orang-orang yang terlibat dalam pemilihan umum dan yang memberikan suara ? Segala puji bagi Allah Yang Maha Kuasa dan semoga keselamatan dan Rahmat-Nya senantiasa terlimpahkan kepada Rasulullah Muhammad SAW, keluarga dan para sahabat, serta seluruh pengikutnya. Agar dapat menjawab pertanyaan yang sangat penting tentang berpartisipasi di dalam pemilu dan [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=cipeh.wordpress.com&amp;blog=11766244&amp;post=111&amp;subd=cipeh&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p dir="ltr"><strong><a href="http://cipeh.files.wordpress.com/2010/02/17953_100643199970021_10.jpg"><img class="alignleft size-medium wp-image-112" title="17953_100643199970021_10" src="http://cipeh.files.wordpress.com/2010/02/17953_100643199970021_10.jpg?w=300&#038;h=262" alt="" width="300" height="262" /></a></strong></p>
<p dir="ltr"><strong>DON’T VOTE STAY MUSLIM</strong></p>
<p dir="ltr"><em><strong>Apa hukumnya orang-orang yang terlibat dalam pemilihan umum dan yang memberikan suara ?</strong></em></p>
<p dir="ltr">Segala puji bagi Allah Yang Maha Kuasa dan semoga keselamatan dan Rahmat-Nya senantiasa terlimpahkan kepada Rasulullah Muhammad SAW, keluarga dan para sahabat, serta seluruh pengikutnya.</p>
<p dir="ltr">Agar dapat menjawab pertanyaan yang sangat penting tentang berpartisipasi di dalam pemilu dan memberikan suara untuk para calon legislatif, baik DPR maupun DPRD, Kita harus mengetahui realitas atau hakikat fakta, karena kaidah syara’ menyatakan bahwa bagian paling penting untuk menilai suatu persoalan adalah memahami persoalan tersebut atau mengetahui hakikat faktanya.</p>
<p dir="ltr"><span id="more-111"></span></p>
<p> </p>
<p>Dalam hal ini kita harus mengetahui realitas atau hakikat fakta dari dua hal, yaitu;</p>
<p>1. Badan legislatif (DPR atau DPRD) yang mana beberapa calon ingin berpartisipasi di dalamnya dan,</p>
<p>2. Pemilihan dimana orang-orang terlibat di dalamnya yaitu dengan memberikan suara (nyoblos).</p>
<p>Kita harus ingat bahwa bagian dari ke-Imanan dan percaya kepada Allah SWT adalah At-Tauhid yang berarti mematuhi, mengikuti, menyembah dan meng-agungkan Allah SWT semata, tanpa menyekutukan Dzat-Nya atau gelar-Nya dengan sesuatu yang lain, dan sebaliknya menyekutukan Dzat-Nya dan gelar-Nya dengan segala sesuatu yang lain adalah perbuatan syirik, yang menyebabkan seseorang keluar dari Islam, dan itulah mengapa At-Tauhid sebagai dasar dari rukun Islam. Salah satu dari gelar-gelar-Nya adalah Ia adalah Maha Pembuat Hukum (Al-Hakim) dan Maha Memerintah (Al-Mudabbir) dan Dia mempunyai hak kekuasaan yang mutlak untuk memerintah dan membuat hukum, yang tak satupun dapat menggantikan kekuasaan mutlak-Nya ini. Allah SWT berfirman:</p>
<p><em><strong>”Keputusan itu hanyalah Kepunyaan Allah” (QS 12 : 40)</strong></em></p>
<p>Dan Allah juga berfirman :</p>
<p><em><strong>“Dan tidaklah patut bagi laki-laki yang mukmin dan tidak (pula) bagi perempuan yang mukmin, apabila Allah dan Rasulnya telah menetapkan suatu ketetapan, akan ada bagi mereka pilihan (yang lain) tentang urusan mereka.Dan barangsiapa mendurhakai Allah dan Rasulnya maka sungguhlah dia akan sesat, sesat yang nyata” (QS 33 : 36) </strong></em></p>
<p>Setelah menentukan dua fakta di atas marilah kita meneliti realitas atau hakikat fakta dari Dewan legislatif.</p>
<p>Para pakar hukum menyebutkan bahwa Badan Legislatif adalah lembaga untuk mengesahkan hukum, sedangkan orang yang bergabung di dalamnya disebut anggota dewan, yaitu para wakil dan utusan rakyat yang telah dipilih oleh rakyat (baik pusat maupun daerah).</p>
<p>Tidak ada perbedaan diantara mereka, baik yang ada di Negara-negara Timur atau Barat bahwa fungsi utama dari dewan legislatif (parlemen) adalah untuk membuat hukum (Undang-undang). Oleh karena itu, kita dapat menyebutkan beberapa tugas utama dari Badan Legislatif (DPR/DPRD) adalah : Membuat dan mengesahkan Undang-undang (UU)</p>
<p>Adapun sumber-sumber pembuatan UU di DPR/DPRD adalah :</p>
<p>1. Pikiran dan keinginan-keinginan dari para wakil rakyat dan menteri sebagai wakil rakyat.</p>
<p>2. Lembaga-lembaga Internasional atau juga disebut hukum Internasional.</p>
<p>Aqidah sebagian besar orang-orang di dunia sekarang ini adalah sekularisme, yang menyatakan bahwa :</p>
<p>Tuhan hanya mempunyai kedaulatan di surga atau di dalam masjid atau di gereja dan tempat-tempat peribadatan, sebaliknya manusia yaitu rakyat mempunyai kedaulatan di bumi dan seluruh aspek kehidupan, kecuali agama.</p>
<p>Menurut aqidah sekulerisme, agama adalah suatu urusan pribadi antara seseorang individu dengan Tuhan atau sesuatu yang diagungkan seperti matahari, sapi, patung, orang, dan lain-lain.</p>
<p>Ini adalah realita yang terjadi di badan legislatif (parlemen) dan dasar bagaimana badan tersebut dibangun.</p>
<p>Mengenai realitas ‘nyoblos’; pemilih atau orang yang memberikan suaranya, mempunyai kedaulatan umum karena rakyatlah yang membuat hukum untuk urusan mereka sendiri di dalam masyarakat. Karena mereka memiliki kedaulatan, maka mereka menentukan suatu mekanisme dalam memilih para wakilnya, yang menjadi wakil rakyat untuk membuat hukum(UU) dan memerintah atas nama kepentingan-kepentingan mereka sendiri.</p>
<p>Hal ini diwujudkan dalam prinsip politik sekuler (demokrasi) yang menyatakan bahwa :</p>
<p><em>‘Dari rakyat, oleh rakyat dan untuk rakyat’</em></p>
<p>oleh sebab itu kita dapat menyimpulkan bahwa rakyat berhak untuk membuat hukum atau undang-undang.</p>
<p>Realitas dari pemilih adalah dia sebagai orang yang memilih wakilnya, yang menghasilkan fakta bahwa dia juga bertanggung jawab atas apa yang telah dilakukan oleh wakilnya. Tugas para wakilnya disini adalah membuat hukum (UU) supaya dapat mengatur semua kepentingan rakyat.</p>
<p>Ringkasnya, badan legislatif (DPR/DPRD) atau parlemen (dalam sistem politik Barat) adalah sebuah badan yang membuat hukum (UU), rakyat adalah raja, dan sumber pembuatan serta penetapan hukum (UU), dan para wakil rakyat dipilih oleh rakyat untuk membuat serta menetapkan hukum (UU) atas nama rakyat.</p>
<p>Hukum terhadap hal ini adalah :</p>
<p>1. Seseorang yang percaya bahwa Allah SWT bukan satu-satunya pembuat hukum (UU) dan penguasa tunggal, adalah seorang yang tidak beriman (kafir).</p>
<p>2. Seseorang yang percaya kekuasaan Allah SWT tetapi menyekutukan Allah dengan sesuatu yang lain dan menentang bahwa dia sebagai pembuat hukum dan penguasa tunggal adalah seorang yang musyrik yang menyekutukan Allah dengan sesuatu yang lain.</p>
<p>3. Seorang muslim yang memberikan suara untuk memilih wakilnya, dan telah mengetahui bahwa badan legislatif (DPR/DPRD) adalah sebuah lembaga untuk membuat hukum (UU) adalah seorang yang ingkar terhadap agama.</p>
<p>4. Seorang muslim yang berpartisipasi dalam pemilihan untuk menjadi seorang wakil rakyat (DPR/DPRD) dan dia telah mengetahui realitas badan legislatif (parlemen) adalah seorang yang ingkar terhadap agama.</p>
<p>5. Seorang muslim yang tidak mengetahui realitas badan legislatif (parlemen) dan dia memberikan suara maka dia berdosa, karena dia tidak mencari status hukum dari perbuatannya, sebelum melaksanakan perbuatan tersebut. Kaidah syara’ menyatakan bahwa setiap perbuatan, lisan atau fisik, harus didasarkan pada hukum syara’ yang bersumber dari Al-Qur’an dan As-sunnah.</p>
<p>6. Seorang muslim yang berpartisipasi nyoblos untuk memilih para wakilnya, apakah wakilnya itu muslim atau non muslim, karena mendasarkan tindakan pada suatu pendapat yang menyesatkan dari seorang rasionalis sekuler atau ulama sekuler, maka persoalan ini harus dijelaskan kepadanya. Karena pemahaman bahwa Allah adalah satu-satunya pembuat hukum adalah sesuatu yang harus diketahui dari Dienul Islam sebagai suatu kebutuhan, sehingga ketidaktahuan tentang hal ini tidak bisa dijadikan sebagai sebuah alasan, oleh karena itu dia berdosa.</p>
<p>7. Keadaan yang bisa dijadikan alasan untuk terhindar dari kesalahan itu adalah orang yang baru masuk Islam (muallaf), atau seorang yang betul-betul bodoh dan atau seseorang yang tidak mengetahui tentang sesuatu yang seharusnya diketahui sebagai kebutuhan dari Dienul Islam dikarenakan dia hidup di bawah hukum kufur dan hidup di tengah-tengah orang-orang non muslim. Persoalan ini harus dijelaskan kepada mereka tetapi jika mereka tetap melanjutkan untuk memberikan suara (nyoblos) karena mengatakan bahwa mereka mempunyai pendapat yang berbeda maka mereka berdosa.</p>
<p>Dalil syar’i untuk fatwa di atas adalah firman Allah SWT :</p>
<p><em><strong>“Dengan kembali bertaubat kepadaNya dan bertakwalah kepadaNya serta dirikanlah sholat dan janganlah kamu termasuk orang-orang yang mempersekutukan Allah. (QS. 30 : 31) </strong></em></p>
<p>Juga firman Allah :</p>
<p><em><strong>”Dan dia tidak mengambil seorang pun menjadi sekutunya dalam menetapkan keputusan” (QS 18 : 26)</strong></em></p>
<p>Dan juga sudah sangat dikenal dalam Islam bahwa hukum apapun selain hukum Allah adalah Thaghut dan Allah mengancam orang-orang yang merujuk kepada Thaghut :</p>
<p><em><strong>“Apakah kamu tidak memperhatikan orang-orang yang mengaku dirinya telah beriman kepada apa yang telah diturunkan dan kepada apa yang diturunkan sebelum kamu? Mereka hendak berhakim kepada thaghut padahal mereka telah diperintahkan mengingkari thaghut itu.Dan syetan bermaksud menyesatkan mereka (dengan) penyesatan yang sejauh-jauhnya” (QS 4 : 60)</strong></em></p>
<p>Telah disampaikan mengenai keadaan tentang ayat di atas bahwa orang-orang munafik mengaku dirinya muslim tetapi ketika berselisih, mereka justru merujuk kepada keputusan-keputusan yang diciptakan para wakil rakyat (ketika itu) sebagai pembuat hukum (UU) seperti Amru Bin Luhay,Al-Khuzaa’ie dan Ka’ab Bin Al-Ashraef bersama-sama dengan para rahib, pendeta dan para wakil rakyat yang lain yang telah terbiasa membuat hukum (UU) untuk mereka, daripada merujuk kepada Rasulullah dan hukum yang telah ditetapkan oleh Allah Yang Maha Kuasa.</p>
<p>Mengenai orang-orang yang telah tersesat dan telah jatuh pada kemungkaran dan kemaksiatan yang nyata ini Rasulullah SAW berkata “</p>
<p><em>“Salah satu yang sangat saya takutkan dari ummatku adalah adanya pemimpin-pemimpin yang sesat yang mengarahkan sebagian dari ummatku untuk menyembah berhala dan mengarahkan sebagian yang lain untuk mengikuti orang-orang musyrik”. </em></p>
<p>Sehingga siapapun yang memilih dan mengikuti para pembuat hukum (UU) yang sesat tersebut, maka nyata-nyata mereka telah memilih seorang raja untuk membuat hukum (UU) untuk mereka. Hal ini berarti mereka telah menyekutukan Allah karena mencipta hukum dan memerintah hanyalah hak Allah semata.</p>
<p><em><strong>”Manakah yang baik, Tuhan-tuhan yang bermacam-macam itu ataukah Allah Yang Maha Esa lagi Maha Perkasa? Kamu tidak menyembah yang selain Allah kecuali hanya menyembah nama-nama yang kamu dan nenek moyangmu membuat-buatnya.Allah tidak menurunkan suatu keterangan mengenai nama-nama itu. Keputusan itu hanyalah kepunyaan Allah. Dia telah memerintahkan agar kamu tidak menyembah selain dia. Itulah agama yang lurus tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui” (QS:12:39-40) </strong></em></p>
<p>Hal ini adalah realitas suatu aqidah baru yang menyatakan bahwa kedaulatan di tangan manusia yang telah diikuti sebagian besar orang sekarang ini. Oleh karena itu apapun yang telah dilakukan seseorang sebagai perbuatan yang baik dan juga apapun yang telah dilakukan seorang muslim seperti sholat, puasa dan perbuatan baik yang lain, tetapi setelah itu melakukan kemungkaran ini dan tidak bertaubat dari kemungkaran ini maka seluruh perbuatan baiknya itu menjadi sia-sia, Allah SWT berfirman :</p>
<p><em><strong>”Itulah petunjuk Allah, yang dengannya dia memberi petunjuk kepada siapa yang dikehendakinya diantara hamba-hambanya. Seandainya mereka mempersekutukan Allah, niscaya lenyaplah dari mereka amal-amalan yang telah mereka kerjakan”(QS 6 : 88) </strong></em></p>
<p>Dan bagi orang-orang yang mengatakan bahwa kami tidak menyebut mereka ‘Pencipta’ tetapi kami hanya menyebut mereka ‘Pemerintah’, maka mereka harus segera mengingat firman Allah SWT :</p>
<p><em><strong>”Ingatlah, menciptakan dan memerintah hanyalah hak Allah. Maha Suci Allah Tuhan Semesta Alam” (QS 7 : 54) </strong></em></p>
<p>Oleh karena itu tidak seorangpun yang diperbolehkan untuk disekutukan dengan-Nya, sebagai Dzat yang Maha Pencipta sama halnya tidak seorang pun yang berhak untuk menyekutukan-Nya, sebagai Dzat Yang Maha Memerintah dan Dzat Yang Maha Membuat Hukum.</p>
<p>Mengenai orang-orang yang telah disesatkan oleh yang lain dan telah melakukan kemaksiatan ini, maka itu adalah sebuah kesalahan mereka, kami menasehati mereka untuk takut kepada Allah dan tidak melakukan kemaksiatan ini lagi, karena Allah SWT akan mengampuni hambanya yang telah melakukan suatu perbuatan tanpa kesengajaan, tetapi dia tidak akan pernah mengampuni hambanya yang melakukan perbuatan itu dengan sengaja, sampai mereka berhenti dan minta ampun kepadanya. Allah SWT berfirman :</p>
<p><em><strong>”Dan tidak ada dosa atasmu terhadap apa yang kamu khilaf padanya, tetapi (yang ada dosanya) apa yang disengaja oleh hatimu”(QS 33 : 5) </strong></em></p>
<p>Sehingga kesalahan yang dilakukan tanpa kesengajaan adalah akan diampuni seperti yang telah diceritakan oleh Rasulullah SAW tentang seorang Badui yang telah kehilangan ontanya di padang pasir bersama dengan seluruh pakaian dan airnya dan kemudian dia menemukan ontanya setelah kehilangan seluruh harapan hidupnya dan telah bersiap menghadapi kematian. Allah SAW mengirimkan ontanya kembali kepadanya dan dia memohon seraya berkata : “Ya Allah kamu adalah Hambaku dan aku adalah Rajamu. Berkenaan dengan hal ini Rasulullah SAW berkata “Sesungguhnya dia melakukan kesalahan itu karena dia tenggelam dalam kebahagiaan”.</p>
<p>Sangatlah berbeda antara orang yang memilih atau memberikan suara karena ketidaktahuan, mengira bahwa apa yang dilakukannya itu adalah perbuatan yang baik dengan orang yang melakukan kejahatan itu dengan sengaja. Dia mengajak orang-orang untuk berpartisipasi dalam pemilihan dan memberi suara, mengumpulkan dana, kampanye, mendirikan posko-posko, menulis dan menyebarkan selebaran, mengundang para wakil rakyat di rumah Allah (masjid) memberi mereka hadiah, menjamu mereka dan bahkan mengorbankan Tauhid agar dapat dipilih atau dapat memberikan suara karena mengira mereka mendapatkan keuntungan darinya. Adalah sangat berbeda orang-orang seperti ini dengan seorang Badui yang telah disebutkan dalam cerita di atas yang melakukan kesalahan karena ketidaksengajaan.</p>
<p>Akhirnya kami ingin menekankan disini bahwa tujuh fatwa di atas tidak termasuk orang-orang yang memilih atau memberikan suara karena di bawah tekanan dan paksaan, atau murni karena ketidaktahuaan, atau orang yang telah disesatkan tanpa ada penjelasan padanya. Ini adalah salah satu dari malapetaka yang telah mempengaruhi kehidupan kaum muslimin di belahan bumi ini.</p>
<p>Kami berdo’a kepada Allah SWT semoga mereka segera sadar akan kesalahannya dan semoga Allah senantiasa membimbing kita untuk beraktivitas dalam rangka melaksanakan perintah-Nya dan menegakkan agama-Nya, sehingga kedaulatan hanya milik Allah semata, dan kejayaan Islam segera menaungi seluruh bagian bumi ini. Segala Kemuliaan dan Pujian semata-mata hanya untuk-Nya.</p>
<p><em>Ya Allah…saksikanlah, kami telah menyampaikannya !</em></p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/cipeh.wordpress.com/111/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/cipeh.wordpress.com/111/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/cipeh.wordpress.com/111/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/cipeh.wordpress.com/111/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/cipeh.wordpress.com/111/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/cipeh.wordpress.com/111/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/cipeh.wordpress.com/111/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/cipeh.wordpress.com/111/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/cipeh.wordpress.com/111/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/cipeh.wordpress.com/111/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/cipeh.wordpress.com/111/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/cipeh.wordpress.com/111/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/cipeh.wordpress.com/111/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/cipeh.wordpress.com/111/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=cipeh.wordpress.com&amp;blog=11766244&amp;post=111&amp;subd=cipeh&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://cipeh.wordpress.com/2010/02/01/hukum-orang-orang-yang-terlibat-dalam-pemilihan-umum-dan-yang-memberikan-suara/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/264b6e5aa49527d70114602e92b7a1e2?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">cipeh</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://cipeh.files.wordpress.com/2010/02/17953_100643199970021_10.jpg?w=300" medium="image">
			<media:title type="html">17953_100643199970021_10</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>My Hajj</title>
		<link>http://cipeh.wordpress.com/2010/02/01/my-hajj/</link>
		<comments>http://cipeh.wordpress.com/2010/02/01/my-hajj/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 01 Feb 2010 14:49:58 +0000</pubDate>
		<dc:creator>cipeh</dc:creator>
				<category><![CDATA[Ibadah haji 1430 h]]></category>
		<category><![CDATA[Hajj]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://cipeh.wordpress.com/?p=9</guid>
		<description><![CDATA[Setelah perjalanan sekitar 3 jam , kami dan rombongan tiba di tempat miqat di Taif. Suasana saat menunggu mobil yang akan membawa jama&#8217;ah haji ke Mekkah Al Mukarramah,,, Ini saya nih,,,sambil nunggu jemputan, jangan lupa Foto dulu,,,,:) Suasana Tawaf qudum, ketika baru saja tiba di Mekkah&#8230;. Setelah selesai tawaf&#8230; Lagi di terowongan Mina&#8230;. Terowongan Mina [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=cipeh.wordpress.com&amp;blog=11766244&amp;post=9&amp;subd=cipeh&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div id="attachment_10" class="wp-caption alignnone" style="width: 310px"><a href="http://cipeh.files.wordpress.com/2010/02/dsc00212.jpg"><img class="size-medium wp-image-10" title="DSC00212" src="http://cipeh.files.wordpress.com/2010/02/dsc00212.jpg?w=300&#038;h=225" alt="" width="300" height="225" /></a><p class="wp-caption-text">Tempat miqat Taif</p></div>
<p>Setelah perjalanan sekitar 3 jam , kami dan rombongan tiba di tempat miqat di Taif.</p>
<p><a href="http://cipeh.files.wordpress.com/2010/02/dsc00215.jpg"><img class="alignnone size-medium wp-image-11" title="DSC00215" src="http://cipeh.files.wordpress.com/2010/02/dsc00215.jpg?w=300&#038;h=225" alt="" width="300" height="225" /></a></p>
<p>Suasana saat menunggu mobil yang akan membawa jama&#8217;ah haji ke Mekkah Al Mukarramah,,,</p>
<p><a href="http://cipeh.files.wordpress.com/2010/02/dsc00222.jpg"><img class="alignnone size-medium wp-image-12" title="DSC00222" src="http://cipeh.files.wordpress.com/2010/02/dsc00222.jpg?w=225&#038;h=300" alt="ini saya,,,cakev kan...? he..he.." width="225" height="300" /></a></p>
<p>Ini saya nih,,,sambil nunggu jemputan, jangan lupa Foto dulu,,,,:)<span id="more-9"></span></p>
<p><a href="http://cipeh.files.wordpress.com/2010/02/dsc00227.jpg"><img class="alignnone size-medium wp-image-13" title="DSC00227" src="http://cipeh.files.wordpress.com/2010/02/dsc00227.jpg?w=300&#038;h=225" alt="" width="300" height="225" /></a></p>
<p>Suasana Tawaf qudum, ketika baru saja tiba di Mekkah&#8230;.</p>
<p><a href="http://cipeh.files.wordpress.com/2010/02/dsc00228.jpg"><img class="alignnone size-medium wp-image-14" title="DSC00228" src="http://cipeh.files.wordpress.com/2010/02/dsc00228.jpg?w=300&#038;h=225" alt="" width="300" height="225" /></a></p>
<p>Setelah selesai tawaf&#8230;</p>
<p><a href="http://cipeh.files.wordpress.com/2010/02/dsc00243.jpg"><img class="alignnone size-medium wp-image-21" title="DSC00243" src="http://cipeh.files.wordpress.com/2010/02/dsc00243.jpg?w=300&#038;h=225" alt="" width="300" height="225" /></a></p>
<p>Lagi di terowongan Mina&#8230;.</p>
<p><a href="http://cipeh.files.wordpress.com/2010/02/dsc002451.jpg"><img class="alignnone size-medium wp-image-22" title="DSC00245" src="http://cipeh.files.wordpress.com/2010/02/dsc002451.jpg?w=300&#038;h=225" alt="" width="300" height="225" /></a></p>
<p>Terowongan Mina</p>
<p><a href="http://cipeh.files.wordpress.com/2010/02/dsc002471.jpg"><img class="alignnone size-medium wp-image-23" title="DSC00247" src="http://cipeh.files.wordpress.com/2010/02/dsc002471.jpg?w=300&#038;h=225" alt="" width="300" height="225" /></a></p>
<p><a href="http://cipeh.files.wordpress.com/2010/02/dsc002481.jpg"><img class="alignnone size-medium wp-image-24" title="DSC00248" src="http://cipeh.files.wordpress.com/2010/02/dsc002481.jpg?w=300&#038;h=225" alt="" width="300" height="225" /></a></p>
<p><a href="http://cipeh.files.wordpress.com/2010/02/dsc002501.jpg"><img class="alignnone size-medium wp-image-25" title="DSC00250" src="http://cipeh.files.wordpress.com/2010/02/dsc002501.jpg?w=300&#038;h=225" alt="" width="300" height="225" /></a></p>
<p><a href="http://cipeh.files.wordpress.com/2010/02/dsc002561.jpg"><img class="alignnone size-medium wp-image-26" title="DSC00256" src="http://cipeh.files.wordpress.com/2010/02/dsc002561.jpg?w=300&#038;h=225" alt="" width="300" height="225" /></a></p>
<p><a href="http://cipeh.files.wordpress.com/2010/02/dsc00257.jpg"><img class="alignnone size-medium wp-image-27" title="DSC00257" src="http://cipeh.files.wordpress.com/2010/02/dsc00257.jpg?w=300&#038;h=225" alt="" width="300" height="225" /></a></p>
<p><a href="http://cipeh.files.wordpress.com/2010/02/dsc00268.jpg"><img class="alignnone size-medium wp-image-28" title="DSC00268" src="http://cipeh.files.wordpress.com/2010/02/dsc00268.jpg?w=300&#038;h=225" alt="" width="300" height="225" /></a></p>
<p>Setelah shalat shubuh berangkat ke arafah untuk wukuf.,</p>
<p><a href="http://cipeh.files.wordpress.com/2010/02/dsc00272.jpg"><img class="alignnone size-medium wp-image-29" title="DSC00272" src="http://cipeh.files.wordpress.com/2010/02/dsc00272.jpg?w=300&#038;h=225" alt="" width="300" height="225" /></a></p>
<p>Arafah&#8230;.</p>
<p><a href="http://cipeh.files.wordpress.com/2010/02/dsc00274.jpg"><img class="alignnone size-medium wp-image-30" title="DSC00274" src="http://cipeh.files.wordpress.com/2010/02/dsc00274.jpg?w=300&#038;h=225" alt="" width="300" height="225" /></a></p>
<p>Ehh&#8230;ada onta lewat..jepret ahh</p>
<p><a href="http://cipeh.files.wordpress.com/2010/02/dsc00293.jpg"><img class="alignnone size-medium wp-image-31" title="DSC00293" src="http://cipeh.files.wordpress.com/2010/02/dsc00293.jpg?w=300&#038;h=225" alt="" width="300" height="225" /></a></p>
<p>Jabal Rahmah&#8230;.</p>
<p><a href="http://cipeh.files.wordpress.com/2010/02/dsc00301.jpg"><img class="alignnone size-medium wp-image-32" title="DSC00301" src="http://cipeh.files.wordpress.com/2010/02/dsc00301.jpg?w=300&#038;h=225" alt="" width="300" height="225" /></a></p>
<p>Balik ke Mina..di atas Kap mobil lagi&#8230;asyik..</p>
<p><a href="http://cipeh.files.wordpress.com/2010/02/dsc00307.jpg"><img class="alignnone size-medium wp-image-33" title="DSC00307" src="http://cipeh.files.wordpress.com/2010/02/dsc00307.jpg?w=300&#038;h=225" alt="" width="300" height="225" /></a></p>
<p>Lempar Jumroh&#8230;.</p>
<p><a href="http://cipeh.files.wordpress.com/2010/02/dsc00327.jpg"><img class="alignnone size-medium wp-image-34" title="DSC00327" src="http://cipeh.files.wordpress.com/2010/02/dsc00327.jpg?w=300&#038;h=225" alt="" width="300" height="225" /></a></p>
<p>Ke Haram lagi untuk tawaf  ifadah&#8230;.itu orang semua gan&#8230;</p>
<p><a href="http://cipeh.files.wordpress.com/2010/02/dsc00346.jpg"><img class="alignnone size-medium wp-image-35" title="DSC00346" src="http://cipeh.files.wordpress.com/2010/02/dsc00346.jpg?w=300&#038;h=225" alt="" width="300" height="225" /></a></p>
<p><a href="http://cipeh.files.wordpress.com/2010/02/dsc00325.jpg"><img class="alignnone size-medium wp-image-36" title="DSC00325" src="http://cipeh.files.wordpress.com/2010/02/dsc00325.jpg?w=225&#038;h=300" alt="" width="225" height="300" /></a></p>
<p>Ahhh,,saya lagi&#8230;</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/cipeh.wordpress.com/9/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/cipeh.wordpress.com/9/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/cipeh.wordpress.com/9/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/cipeh.wordpress.com/9/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/cipeh.wordpress.com/9/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/cipeh.wordpress.com/9/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/cipeh.wordpress.com/9/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/cipeh.wordpress.com/9/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/cipeh.wordpress.com/9/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/cipeh.wordpress.com/9/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/cipeh.wordpress.com/9/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/cipeh.wordpress.com/9/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/cipeh.wordpress.com/9/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/cipeh.wordpress.com/9/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=cipeh.wordpress.com&amp;blog=11766244&amp;post=9&amp;subd=cipeh&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://cipeh.wordpress.com/2010/02/01/my-hajj/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/264b6e5aa49527d70114602e92b7a1e2?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">cipeh</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://cipeh.files.wordpress.com/2010/02/dsc00212.jpg?w=300" medium="image">
			<media:title type="html">DSC00212</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://cipeh.files.wordpress.com/2010/02/dsc00215.jpg?w=300" medium="image">
			<media:title type="html">DSC00215</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://cipeh.files.wordpress.com/2010/02/dsc00222.jpg?w=225" medium="image">
			<media:title type="html">DSC00222</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://cipeh.files.wordpress.com/2010/02/dsc00227.jpg?w=300" medium="image">
			<media:title type="html">DSC00227</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://cipeh.files.wordpress.com/2010/02/dsc00228.jpg?w=300" medium="image">
			<media:title type="html">DSC00228</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://cipeh.files.wordpress.com/2010/02/dsc00243.jpg?w=300" medium="image">
			<media:title type="html">DSC00243</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://cipeh.files.wordpress.com/2010/02/dsc002451.jpg?w=300" medium="image">
			<media:title type="html">DSC00245</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://cipeh.files.wordpress.com/2010/02/dsc002471.jpg?w=300" medium="image">
			<media:title type="html">DSC00247</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://cipeh.files.wordpress.com/2010/02/dsc002481.jpg?w=300" medium="image">
			<media:title type="html">DSC00248</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://cipeh.files.wordpress.com/2010/02/dsc002501.jpg?w=300" medium="image">
			<media:title type="html">DSC00250</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://cipeh.files.wordpress.com/2010/02/dsc002561.jpg?w=300" medium="image">
			<media:title type="html">DSC00256</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://cipeh.files.wordpress.com/2010/02/dsc00257.jpg?w=300" medium="image">
			<media:title type="html">DSC00257</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://cipeh.files.wordpress.com/2010/02/dsc00268.jpg?w=300" medium="image">
			<media:title type="html">DSC00268</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://cipeh.files.wordpress.com/2010/02/dsc00272.jpg?w=300" medium="image">
			<media:title type="html">DSC00272</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://cipeh.files.wordpress.com/2010/02/dsc00274.jpg?w=300" medium="image">
			<media:title type="html">DSC00274</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://cipeh.files.wordpress.com/2010/02/dsc00293.jpg?w=300" medium="image">
			<media:title type="html">DSC00293</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://cipeh.files.wordpress.com/2010/02/dsc00301.jpg?w=300" medium="image">
			<media:title type="html">DSC00301</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://cipeh.files.wordpress.com/2010/02/dsc00307.jpg?w=300" medium="image">
			<media:title type="html">DSC00307</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://cipeh.files.wordpress.com/2010/02/dsc00327.jpg?w=300" medium="image">
			<media:title type="html">DSC00327</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://cipeh.files.wordpress.com/2010/02/dsc00346.jpg?w=300" medium="image">
			<media:title type="html">DSC00346</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://cipeh.files.wordpress.com/2010/02/dsc00325.jpg?w=225" medium="image">
			<media:title type="html">DSC00325</media:title>
		</media:content>
	</item>
	</channel>
</rss>
