Jihad: Kewajiban yang Hilang

Jihad: Kewajiban yang Hilang

Jihad fi Sabilillah merupakan kewajiban agung yang dicintai oleh hati setiap mukmin, walaupun banyak kesulitannya. Karena jihad akan membimbingnya di dunia dan akhirat. Jihad akan mengeluarkannya dari lembah kekerdilan ke puncak kejayaan, dari kehinaan kepada kemuliaan, dan dari kekalahan kepada kemenangan  dengan izin Allah.

Jihad akan membimbing seorang mukmin kelak di akhirat sehingga dia memasuki surga. “Barang siapa dijauhkan dari neraka dan dimasukkan ke dalam surga, maka sungguh ia telah beruntung. Kehidupan dunia itu tidak lain hanyalah kesenangan yang memperdayakan.” (QS. Ali Imran: 185)

Dalam sebuah hadits disebutkan:

وَلَا يَجْتَمِعُ عَلَى عَبْدٍ غُبَارٌ فِي سَبِيلِ اللَّهِ وَدُخَانُ جَهَنَّمَ

Tidak akan berkumpul pada seorang hamba; debu pada jalan Allah dan asap jahannam.” (HR. Ahmad)

مَنْ قَاتَلَ فِي سَبِيلِ اللَّهِ فُوَاقَ نَاقَةٍ فَقَدْ وَجَبَتْ لَهُ الْجَنَّةُ

Barangsiapa yang berperang di jalan Allah walaupun hanya sesaat, wajib baginya mendapat surga.” (HR. Abu Dawud, at-Tirmidzi, dan Ahmad)

مَنْ اغْبَرَّتْ قَدَمَاهُ فِي سَبِيلِ اللَّهِ حَرَّمَهُ اللَّهُ عَلَى النَّارِ

Barangsiapa berdebu kedua kakinya di jalan Allah, maka Allah haramkannya masuk neraka.” (HR. Al Bukhari)

Karena itu, para sahabat Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam menangis ketika mereka tidak mampu berparisipasi dalam jihad. Maka, “mereka kembali, sedang mata mereka bercucuran air mata karena kesedihan, lantaran mereka tidak memperoleh apa yang akan mereka nafkahkan.” (QS. At-Taubah: 92)

..Para sahabat Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam menangis ketika mereka tidak mampu berparisipasi dalam jihad…

Itulah kewajiban yang dijauhi oleh kebanyakan kaum muslimin pada zaman kita sekarang ini. Sungguh tepat orang yang menyebutnya sebagai “kewajiban yang hilang”.

Kiranya, inilah perbedaan yang mencolok antara kita (generasi akhir umat ini) dengan para sahabat sebagai generasi awalnya. Ini juga yang menjadi kejelasan, kenapa Allah Ta’ala memuliakan mereka dan membiarkan kita dalam kehinaan dan kenistaan di bawah kuasa musuh-musuh Islam. sungguh tepat sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam,

إِذَا تَبَايَعْتُمْ بِالْعِينَةِ وَ أَخَذْتُمْ أَذْنَابَ الْبَقَرِ وَرَضِيتُمْ بِاالزَّرْعِ وَتَرَكْتُمْ الْجِهَادَ سَلّطَ اللهُ عَلَيْكُمْ ذُلاَّ لاَ يَنْزَعُهُ عَنْكُمْ حَتَّى تَرْجِعُوا إِلَى دِينِكُمْ

Jika kamu telah berjual beli dengan sistem “baiiul ‘innah” memegang ekor sapi dan ridlo dengan pekerjaan bertani serta meninggalkan jihad (dijalan Allah), niscaya Allah akan menjadikan kehinaan menguasai kamu, Dia tidak akan mencabutnya dari kalian, hingga kalian kembali kepada agamamu.” (Dikeluarkan oleh Abu Dawud dan yang lainnya dan dishahihkan oleh Syaikh Al-Albani, lihat Silsilah al-Ahadiits ash-Shahiihah, jilid I hal.42 No.11)

. . . serta meninggalkan jihad (dijalan Allah), niscaya Allah akan menjadikan kehinaan menguasai kamu, . .

Apa yang diberitakan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam ini sudah terbukti. Umat Islam begitu kikir menyumbangkan jiwa dan hartanya kepada Allah, padahal Allah sudah membelinya dari mereka dengan harga yang mahal, padahal Allah lah sebenarnya pencipta dan pemilik mereka. “Sesungguhnya Allah telah membeli dari orang-orang mukmin, diri dan harta mereka dengan memberikan surga untuk mereka.

..Apa yang diberitakan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam ini sudah terbukti.

Umat Islam begitu pelit menyumbangkan jiwa dan hartanya kepada Allah, padahal Allah sudah membelinya dari mereka dengan harga yang mahal…

Selanjutnya Allah menunjukkan pasar tempat diselenggarakannya perdagangan yang menguntungkan ini, “mereka berperang pada jalan Allah; lalu mereka membunuh atau terbunuh.

Allah yang Maha Agung dan Maha Tinggi, sebagai pembeli, memberikan janji dengan penandatanganan perjanjian, “sebagai janji yang benar atas dirinya.” Kemudian Dia meletakkan janji-Nya dalam semulia-mulia kitab yang diturunkan kepada para rasul-Nya, “dalam Taurat, Injil dan Al Qur’an.” Lalu Allah meyakinkan kembali para penjual yang akan menyerahkan harta dan jiwanya itu, bahwa Dia tidak pernah berdusta dan ingkar janji, “Dan siapakah yang lebih menepati janjinya (selain) daripada Allah?.

Karenanya, Dia memerintahkan agar bergembira sebelum dilaksanakan perdagangan ini, “Maka bergembiralah dengan jual beli yang telah kamu lakukan itu.” Sebab, sebenarnya dagangan itu betul-betul meraih keuntungan besar, “Dan itulah kemenangan yang besar.” (QS. At-Taubah: 111)

Benar ini adalah keuntungan yang besar, si hamba menyerahkan dagangan yang dirinya tidak memiliki dan menguasainya. Si hamba menyerahkannya sebagai harga untuk mendapatkan surga yang seluas langit dan bumi, yang tak seorangpun dapat memasukinya dengan mengandalkan amalnya semata. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “sesungguhnya seseorang tidak akan masuk surga karena amalnya.” Para sahabat bertanya, “tidak juga engkau wahai Rasulullah?” Beliau shallallahu ‘alaihi wasallam menjawab, “tidak juga aku hanya saja Allah melimpahkan rahmat-Nya kepadaku.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Sesungguhnya Allah sangat bermurah hati kepada siapa yang menyambut ajakan jual-beli ini, Dia mengembalikan dagangan yang telah dibelinya itu kepada penjualnya dan tetap membayar harga beli yang telah dijanjikan-Nya.

وَلَا تَحْسَبَنَّ الَّذِينَ قُتِلُوا فِي سَبِيلِ اللَّهِ أَمْوَاتًا بَلْ أَحْيَاءٌ عِنْدَ رَبِّهِمْ يُرْزَقُونَ

Janganlah kamu mengira bahwa orang-orang yang gugur di jalan Allah itu mati; bahkan mereka itu hidup di sisi Tuhannya dengan mendapat rezki.” (QS. Ali Imran: 169)

Dalam sebuah hadits disebutkan, “Sesungguhnya arwah para syuhada itu berada dalam tembolok burung hijau yang berkeliaran di surga ke mana dia suka. Kemudian ia hinggap pada lampu-lampu yang bergelantungan di bawah ‘Arasy.” (HR. Muslim)

..Namun demikian, kaum muslimin di zaman sekarang banyak meninggalkan kewajiban yang agung ini dan tidak menginginkan keuntungan yang besar itu…

Allah mengembalikan ruh-ruh mereka dan mengalirkan rizki kepada mereka sebagai manifestasi dari kemurahan dan kebaikan-Nya kepada siapa yang menerima dan rela melakukan perdagangan ini.

Namun demikian, kaum muslimin di zaman sekarang banyak meninggalkan kewajiban yang agung ini dan tidak menginginkan keuntungan yang besar itu. Kemauan mereka lemah untuk menapak kepada puncak kemuliaan agama ini, padahal “dan puncak kemegahan ajaran Islam adalah jihad.

Maha Benar Allah yang menerangkan dalam firman-Nya:

كُتِبَ عَلَيْكُمُ الْقِتَالُ وَهُوَ كُرْهٌ لَكُمْ وَعَسَى أَنْ تَكْرَهُوا شَيْئًا وَهُوَ خَيْرٌ لَكُمْ وَعَسَى أَنْ تُحِبُّوا شَيْئًا وَهُوَ شَرٌّ لَكُمْ وَاللَّهُ يَعْلَمُ وَأَنْتُمْ لَا تَعْلَمُونَ

Diwajibkan atas kamu berperang, padahal berperang itu adalah sesuatu yang kamu benci. Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu; Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui.” (QS. Al-Baqarah: 216)

Nafsu benar-benar membencinya, lalu meninggalkannya. Bahkan untuk membicarakannya saja mereka antipati. Semua ini disebabkan karena kebodohan mereka akan hakikat jihad dan kecintaan mereka kepada dunia yang berlebih.

..Pembicaraan jihad semakin berat bagi seseorang karena nafsu ikut berbicara, dunia menarik kerah bajunya, syetan menghalangi dan menakut-nakutinya, sifat pengecut mengguncang jiwa dan membelenggu anggota tubuhnya… 

Pembicaraan jihad semakin berat bagi seseorang karena nafsu ikut berbicara, dunia menarik kerah bajunya, syetan menghalangi dan menakut-nakutinya, sifat pengecut mengguncang jiwa dan membelenggu anggota  tubuhnya, kesenangan dunia membentang di depannya sebagai tabir penghalang, sedangkan nafsu amat senang jika ada jalan untuk melarikan diri darinya.

أَلَمْ تَرَ إِلَى الَّذِينَ قِيلَ لَهُمْ كُفُّوا أَيْدِيَكُمْ وَأَقِيمُوا الصَّلَاةَ وَآَتُوا الزَّكَاةَ فَلَمَّا كُتِبَ عَلَيْهِمُ الْقِتَالُ إِذَا فَرِيقٌ مِنْهُمْ يَخْشَوْنَ النَّاسَ كَخَشْيَةِ اللَّهِ أَوْ أَشَدَّ خَشْيَةً وَقَالُوا رَبَّنَا لِمَ كَتَبْتَ عَلَيْنَا الْقِتَالَ لَوْلَا أَخَّرْتَنَا إِلَى أَجَلٍ قَرِيبٍ

Tidakkah kamu perhatikan orang-orang yang dikatakan kepada mereka: “Tahanlah tanganmu (dari berperang), dirikanlah shalat dan tunaikanlah zakat!” Setelah diwajibkan kepada mereka berperang, tiba-tiba sebahagian dari mereka (golongan munafik) takut kepada manusia (musuh), seperti takutnya kepada Allah, bahkan lebih sangat dari itu takutnya. Mereka berkata: “Ya Tuhan kami, mengapa Engkau wajibkan berperang kepada kami? Mengapa tidak Engkau tangguhkan (kewajiban berperang) kepada kami beberapa waktu lagi?.” (QS. An-Nisa': 77)

Dan datanglah penjelasan yang sangat indah, “Katakanlah: ‘Kesenangan di dunia ini hanya sebentar dan akhirat itu lebih baik untuk orang-orang yang bertakwa dan kamu tidak akan dianiaya sedikit pun’.” (QS. An-Nisa': 77)

“Kesenangan di dunia ini hanya sebentar dan akhirat itu lebih baik untuk orang-orang yang bertakwa dan kamu tidak akan dianiaya sedikit pun.

Mari kita tingggalkan dunia dan kesenangannya yang sedikit itu di belakang punggung kita. Mari kita tampil menggapai akhirat yang lebih baik bagi orang bertakwa, dengan mencintai dan merindukan jihad. “sesungguhnya surga itu berada di bawah kilatan pedang.” (HR. Bukhari dan Muslim). [PurWD/voa-islam]

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: